Beton yang digunakan di lapangan tidak selalu mengalami kondisi pengerasan yang sama dengan benda uji yang dirawat secara terkontrol di laboratorium. Ketiadaan perawatan beton (curing) dan adanya gangguan kendaraan pada usia awal beton dapat menyebabkan perbedaan antara mutu beton yang direpresentasikan oleh benda uji laboratorium dan mutu beton aktual di lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kuat tekan dan kuat tarik belah beton f’c 22,5 MPa serta membandingkan hasil pengujian silinder laboratorium dengan Core Drill pada kondisi terawat dan terganggu kendaraan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pengujian silinder pada umur 7, 14, dan 28 hari serta Core Drill pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan rata-rata silinder sebesar 20,27 MPa, 26,09 MPa, dan 38,74 MPa pada umur 7, 14, dan 28 hari. Kuat tekan core terawat sebesar 30,71 MPa dan core terganggu sebesar 29,71 MPa, dengan penurunan sebesar 3,27%. Kuat tarik belah silinder berturut-turut sebesar 2,58 MPa, 3,36 MPa, dan 3,09 MPa, sedangkan core terawat dan terganggu masing-masing sebesar 1,54 MPa dan 2,49 MPa. Hasil menunjukkan bahwa kedua kondisi core masih melampaui mutu tekan rencana 22,5 MPa, sedangkan perbedaan kuat tarik belah menunjukkan variasi yang lebih besar antarkondisi.
References
Badan Standardisasi Nasional. (2011). Cara Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder yang Dicetak (SNI 1974:2011). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2014). Metode Uji Kekuatan Tarik Belah Spesimen Beton Silinder (SNI 2491:2014). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2018). Metode Pengambilan dan Pengujian Inti Beton Hasil Pengeboran dan Balok Beton Hasil Pemotongan (SNI 2492:2018). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2019). Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan (SNI 2847:2019). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Basri, D. R., Tisnawan, R., & Pribadi, W. B. (2021). Analisa Perbandingan Kuat Tekan Beton Fc-20,75 Dengan Dirawat (curing) dan Tidak Dirawat. Jurnal Rivet, 1(1), 32–39. https://doi.org/10.47233/rivet.v1i01.233
Chairunisa, N. (2020). Evaluasi Tingkat Keseragaman Beton dan Sifat Mekanis Beton di Lapangan dengan Penerapan Schmidt Hammer Test dan Metode Core Drilled Test. Buletin Profesi Insinyur, 3(2), 89–94. https://doi.org/10.20527/bpi.v3i2.79
Haavisto, J., Husso, A., & Laaksonen, A. (2021). Compressive Strength Of Core Specimens Drilled From Concrete Test Cylinders. Structural Concrete, 22(S1). https://doi.org/10.1002/suco.202000428
Kabay, N., & Aköz, F. (2019). Investigation Of Factors Affecting Core Compressive Strength And Non-Destructive Testing Of Concrete. Natural Science, 38(1), 171–182.
Purnawirati, I. G. A. N., & Herlambang, F. S. (2022). Tinjauan Kuat Tekan Beton Akibat Curing pada Beton yang dicor di Lapangan. Jurnal Talenta Sipil, 5(1), 165. https://doi.org/10.33087/talentasipil.v5i1.110
Suryadi, D., Nurtanto, D., & Widayanto, E. (2022). Pengaruh Frekuensi dan Durasi Getaran pada Meja Getar Terhadap Kuat Tekan Beton. Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, 5(2), 176. https://doi.org/10.19184/jrsl.v5i2.25540
Wijaya, B. (2021). Kajian Mutu Kuat Tekan Beton Dengan Variasi Ukuran Diameter Coring. Universitas Islam Riau.