Perkembangan teknologi informasi mendorong meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet yang stabil dan merata, termasuk di wilayah pedesaan. Desa Kauditan I telah memiliki infrastruktur jaringan WiFi berupa 18 Access Point, namun berdasarkan hasil monitoring lapangan hanya dua Access Point yang masih aktif sehingga cakupan layanan internet menjadi terbatas dan masih terdapat wilayah yang mengalami blankspot. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jangkauan Access Point menggunakan metode Buffer pada Sistem Informasi Geografis (SIG) serta mengidentifikasi wilayah yang telah terjangkau dan wilayah blankspot. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan aplikasi Fing dan WiFi Analyzer untuk memperoleh data kondisi perangkat, koordinat lokasi, dan kualitas sinyal. Data spasial kemudian diolah menggunakan QGIS melalui analisis buffer dengan radius 10 meter, 30 meter, dan 50 meter. Selain itu dilakukan pengujian Quality of Service (QoS) yang meliputi throughput, packet loss, delay, dan Received Signal Strength Indicator (RSSI) sebagai data pendukung kondisi jaringan. Hasil analisis menunjukkan bahwa jangkauan dua Access Point aktif masih sangat terbatas sehingga sebagian besar wilayah permukiman berada pada area blankspot. Simulasi penambahan Access Point menjadi 18 titik dan 37 titik menunjukkan peningkatan cakupan layanan secara signifikan dibandingkan kondisi eksisting. Penelitian ini menghasilkan peta digital jangkauan Access Point yang dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi pengembangan infrastruktur jaringan internet di Desa Kauditan I.
References
[1] M. Badri, 'Pembangunan Pedesaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Studi pada Gerakan Desa Membangun),' J. Risal., vol. 27, no. 2, pp. 62–73, 2016.
[2] A. Asniati, S. P. Komalasari, and T. B. Dewi, 'Model Smart Village Untuk Pembangunan Berkelanjutan Di Perdesaan,' J. Appl. Manag. Account., vol. 8, no. 1, pp. 72–82, 2024, doi: 10.30871/jama.v8i1.7376.
[3] A. Rahman, M. Mulyati, and I. Inayulah, 'Memperluas Jaringan Access Point Internet,' Fordicate, vol. 4, no. 1, pp. 46–53, 2024, doi: 10.35957/fordicate.v4i1.9731.
[4] E. Irianti, M. S. Lamada, and S. G. Zain, 'Optimalisasi Penentuan Posisi Access Point Untuk Meminimalisir Area Blankspot Pada Pantai Panrangluhu,' vol. 02, pp. 1031–1043, 2024.
[5] B. H. Sugiharto, 'Pembangunan Infrastruktur Sistem Informasi Bagi Masyarakat Berbasis Teknologi,' J. Altifani Penelit. dan Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 2, no. 2, pp. 190–200, 2022, doi: 10.25008/altifani.v2i2.225.
[6] A. Surachman, 'Analisis Spasial Permukiman Berbasis Sistem Informasi Geografis menggunakan QGIS dan OpenStreetMap,' J. Esensi Infokom J. Esensi Sist. Inf. dan Sist. Komput., vol. 8, no. 1, pp. 49–54, 2024, doi: 10.55886/infokom.v8i1.852.
[7] K. Alviana, L. Lumbantobing, and A. Irsyad, 'Analisis Buffer Dalam Sistem Informasi Geografis Untuk Pemilihan Jarak Terdekat Pom Bensin Dari Jangkauan Gedung Fakultas Teknik Universitas Mulawarman,' vol. 1, no. 2, pp. 40–45, 2023.
[8] R. Ramadhan et al., 'ANALISIS PERBANDINGAN QUALITY OF SERVICE MENGGUNAKAN VIRTUAL ACCESS POINT DAN REAL ACCESS POINT DENGAN METODE TIPHON,' vol. 7, no. 1, pp. 516–526, 2023.
[9] A. A. A. Pangemanan, S. D. S. Karouw, and Y. D. Y. Rindengan, 'Perencanaan Pengembangan Desa Digital Di Kauditan I,' J. Tek. Inform., vol. 16, no. 4, pp. 393–400, 2021.