DIPLOMATIC RELIGION DALAM DINAMIKA DIPLOMASI MODERN: PERKEMBANGAN PERAN AGAMA SEBAGAI INSTRUMEN DIALOG, KERJA SAMA, DAN PERDAMAIAN DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

Authors
  • Ismi Nur Azizah

    Faculty of Social Science and Law, Universitas Negeri Makassar
    Author
  • Juwita Putry Anwar

    Faculty of Social Science and Law, Universitas Negeri Makassar
    Author
  • Irsyad Dhahri

    Faculty of Social Science and Law, Universitas Negeri Makassar
    Author
Keywords:
diplomasi agama, faith-based diplomacy, dialog antariman, mediasi, soft power, diplomasi Indonesia
Abstract
Selama lebih dari tiga abad, kajian Hubungan Internasional (HI) dan praktik diplomasi mainstream telah memandang agama sebagai masalah pribadi yang terletak di luar mekanisme kekuasaan negara. Sejak dekade 1990-an, persepsi tersebut mulai mengalami pelemahan. Munculnya konflik yang berakar pada identitas, resurgence gerakan-gerakan keagamaan, dan ketidakefektifan pendekatan diplomasi yang bersifat purna-sekuler mendorong agama untuk kembali menjadi pertimbangan penting dalam formulasi kebijakan luar negeri dan inisiatif-inisiatif perdamaian. Artikel ini menganalisis evolusi peran agama sebagai sarana dialog, kolaborasi, dan upaya perdamaian dalam konteks hubungan internasional, yang dalam tulisan ini dirujuk sebagai diplomatic religion. Penelitian ini menerapkan metodologi kualitatif melalui pendekatan studi literatur dengan desain perbandingan studi kasus terhadap empat situasi: intervensi Takhta Suci dalam penyelesaian sengketa Terusan Beagle (Argentina–Chile), peran Komunitas Sant'Egidio dalam mengatasi konflik internal Mozambik, Dokumen Persaudaraan Manusia (Abu Dhabi, 2019), dan diplomasi keagamaan yang dijalankan Indonesia. Kajian menggunakan tiga kerangka analitik, yakni soft power, diplomasi multisaluran, dan konstruktivisme, serta memanfaatkan tesis ambivalensi agama sebagai alat perbandingan kritis. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa agama beroperasi dalam diplomasi melalui empat cara kerja: pemberian legitimasi moral, pembentukan jaringan lintas negara, penciptaan kepercayaan melalui saluran informal, dan penyediaan narasi makna untuk proses rekonsiliasi. Efektivitasnya bergantung pada kredibilitas dan otonomi para pelaku, integrasi dengan saluran formal, kesiapan politis dari semua pihak yang terlibat, dan kapasitas untuk mencegah penyalahgunaan oleh negara. Artikel ini menegaskan bahwa diplomatic religion paling akurat dipahami sebagai pendamping, bukan substitusi, bagi diplomasi tradisional, dan mengajukan rekomendasi agar Indonesia mengembangkannya dengan pendekatan yang lebih inklusif, sejalan dengan pengalaman domestik, dan dalam bentuk yang terstruktur secara institusional.
References

Abu-Nimer, M. (2003). Nonviolence and peace building in Islam: Theory and practice. University Press of Florida.

Abu-Nimer, M., & Smith, R. K. (2016). Interreligious and intercultural education for dialogue, peace and social cohesion. International Review of Education, 62(4), 393–405.

Appleby, R. S. (2000). The ambivalence of the sacred: Religion, violence, and reconciliation. Rowman & Littlefield.

Araujo, R. J., & Lucal, J. A. (2004). Papal diplomacy and the quest for peace: The Vatican and international organizations from the early years to the modern era. Sapientia Press.

Bartoli, A. (1999). Mediating peace in Mozambique: The role of the Community of Sant'Egidio. Dalam C. A. Crocker, F. O. Hampson, & P. Aall (Eds.), Herding cats: Multiparty mediation in a complex world (hlm. 245–273). United States Institute of Peace Press.

Beach, D., & Pedersen, R. B. (2013). Process-tracing methods: Foundations and guidelines. University of Michigan Press.

Bercovitch, J., & Kadayifci-Orellana, S. A. (2009). Religion and mediation: The role of faith-based actors in international conflict resolution. International Negotiation, 14(1), 175–204.

Berger, P. L. (Ed.). (1999). The desecularization of the world: Resurgent religion and world politics. Eerdmans.

Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101.

Bush, R. (2009). Nahdlatul Ulama and the struggle for power within Islam and politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies.

Casanova, J. (1994). Public religions in the modern world. University of Chicago Press.

Cavanaugh, W. T. (2009). The myth of religious violence: Secular ideology and the roots of modern conflict. Oxford University Press.

Denzin, N. K. (1978). The research act: A theoretical introduction to sociological methods (2nd ed.). McGraw-Hill.

Dewan Keamanan PBB. (1992). Resolusi 797 (1992) tentang Operasi PBB di Mozambik.

Diamond, L., & McDonald, J. (1996). Multi-track diplomacy: A systems approach to peace (3rd ed.). Kumarian Press.

Flyvbjerg, B. (2006). Five misunderstandings about case-study research. Qualitative Inquiry, 12(2), 219–245.

Fox, J., & Sandler, S. (2004). Bringing religion into international relations. Palgrave Macmillan.

Garrett, J. L. (1985). The Beagle Channel dispute: Confrontation and negotiation in the Southern Cone. Journal of Interamerican Studies and World Affairs, 27(3), 81–109.

George, A. L., & Bennett, A. (2005). Case studies and theory development in the social sciences. MIT Press.

Cover Image
Downloads
Published
2026-10-07
Section
Articles

How to Cite

DIPLOMATIC RELIGION DALAM DINAMIKA DIPLOMASI MODERN: PERKEMBANGAN PERAN AGAMA SEBAGAI INSTRUMEN DIALOG, KERJA SAMA, DAN PERDAMAIAN DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL. (2026). Causa: Jurnal Hukum Dan Kewarganegaraan, 16(12). https://journal.cib.institute/index.php/causa/article/view/4977

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

1-10 of 239

You may also start an advanced similarity search for this article.