Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

FORMULASI FOOD BAR DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN EKSTRAK IKAN GABUS SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN UNTUK REMAJA PUTRI ANEMIA

Abstract

Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi utama pada remaja putri di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memformulasikan food bar dengan penambahan ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dan ekstrak ikan gabus (Channa striata) sebagai alternatif makanan selingan kaya zat besi bagi remaja putri berisiko anemia, serta menentukan formula terbaik berdasarkan karakteristik organoleptik, kandungan gizi, dan kelayakan ekonomi. Penelitian menggunakan desain eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formula, yaitu F1 (5% ekstrak daun kelor : 15% ekstrak ikan gabus), F2 (10%:10%), dan F3 (15%:5%). Uji daya terima dilakukan terhadap 30 panelis semi terlatih menggunakan skala hedonik 1-7 dengan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK), dianalisis menggunakan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon dengan koreksi Bonferroni (α=0,0167). Kandungan gizi dianalisis di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG), meliputi analisis proksimat dan kadar zat besi dengan metode Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antarformula pada parameter warna, tekstur, dan rasa (p<0,05), sedangkan aroma dan penerimaan keseluruhan tidak berbeda signifikan (p>0,05). Formula F1 paling disukai dari segi warna, sedangkan F3 paling disukai dari segi tekstur. Kandungan zat besi meningkat secara linear seiring bertambahnya proporsi ekstrak daun kelor dan tertinggi pada F3 (3,16 mg/100g), meskipun kontribusi per takaran saji (39 g) terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) remaja putri usia 16-18 tahun pada seluruh formula masih berada di bawah ambang klaim “sumber zat besi” BPOM. F3 juga memiliki biaya produksi paling rendah (Rp13.676/100 g) dan tetap jauh lebih ekonomis dibandingkan food bar komersial. Dengan mempertimbangkan keunggulan kandungan zat besi dan efisiensi biaya, F3 dipilih sebagai formula terbaik dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif makanan selingan bergizi bagi remaja putri berisiko anemia, meskipun diperlukan optimasi lebih lanjut agar memenuhi persyaratan mutu SNI dan ambang klaim zat besi.

Keywords

food bar, daun kelor, ikan gabus, zat besi, remaja putri, anemia

PDF

References

  1. AKG. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
  2. Alfani, N., Habib, A., & Nuriannisa, F. (2022). Hubungan asupan protein dan zat besi dengan kejadian anemia. Jurnal Gizi.
  3. Anda, S., & Urim, M. (2023). Uji laboratorium kandungan zat gizi makro dan zat besi snack bar tepung ikan gabus dengan penambahan kacang tanah.
  4. Arya, N. P., & Pratama, Y. A. A. G. W. (2020). Anemia defisiensi besi: diagnosis dan tatalaksana. Ganesha Medicina Journal, 2(1), 49–56.
  5. Asysyifa, R., et al. (2024). Kandungan protein tepung mocaf dan ikan gabus dalam produk pangan fungsional.
  6. Azzahra, A., & Suryaalamsah, I. I. (2024). Formulasi cookies sumber zat besi dengan penambahan tepung daun kelor dan tepung sorgum sebagai kudapan alternatif pencegah anemia remaja putri. Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF), 5(1), 1.
  7. BPOM. (2026). Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Label Pangan.
  8. Chakraborty, S., & Dash, K. K. (2023). Moisture transfer mechanisms during baking of bakery products.
  9. Fitriyani, N., et al. (2020). Kandungan gizi dan potensi ikan gabus (Channa striata) sebagai bahan pangan fungsional.
  10. Gozaly, T. (2022). Karakteristik produk foodbar berbasis tepung jagung nikstamal (Zea mays L.) dan tepung kacang merah (Phaseolus vulgaris sp.) dengan lama pemanggangan yang berbeda. Pasundan Food Technology Journal, 9(2), 62–67.
  11. Hidayatullah, A., dkk. (2023). Perbandingan metode ekstraksi albumin ikan gabus: perebusan, MAE, dan UAE.
  12. Ismi Indah Ummi, Sarworini, E., Wirayanti, D., & Ulfah, N. (2023). Pengaruh penambahan tepung abon ikan gabus dan daun kelor terhadap kandungan energi dan kandungan gizi cookies sebagai makanan alternatif balita kurus. Temu Ilmiah Nasional Persagi, 5(1), 329–336.
  13. Kemenkes RI. (2014). Pedoman Gizi Seimbang.
  14. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
  15. Khazanah, dkk. (2023). Inovasi pengolahan daun kelor untuk meningkatkan daya terima masyarakat.
  16. Kineisha, P., Ilmi, I. M. B., & Octaria, Y. C. (2026). Potensi food bar berbahan daun kelor, mocaf, dan ikan untuk pencegahan anemia remaja putri. Jurnal Ners Universitas Pahlawan, 10, 1658–1664.
  17. Masitlha, dkk. (2024). Kandungan mineral dan kadar abu daun kelor.
  18. Meti, S. (2019). Kandungan lemak kacang tanah dan pemanfaatannya dalam produk pangan.
  19. Nabilla, I., Fitriyant, A. R., & Handarsari, E. (2025). Kadar protein, zat besi dan tingkat kesukaan snack bar kacang koro dengan penambahan daun kelor. Jurnal Pangan dan Gizi, 8, 1–11.
  20. Nurkamila, S. (2020). Pemanfaatan ikan gabus (Channa striata) dan daun kelor (Moringa oleifera) pada pembuatan dimsum terhadap daya terima dan kandungan albumin.

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

1-10 of 206

You may also start an advanced similarity search for this article.