HUBUNGAN ANTARA CALLOUS UNEMOTIONAL TRAITS DAN CYBER AGGRESSION PADA REMAJA AWAL DI SURABAYA
PDF

Keywords

Cyber Aggression
Callous Unemotional Traits
Early Adolescence
Agresi Siber
Sifat Callous Unemotional
Remaja Awal

How to Cite

HUBUNGAN ANTARA CALLOUS UNEMOTIONAL TRAITS DAN CYBER AGGRESSION PADA REMAJA AWAL DI SURABAYA. (2026). Liberosis: Jurnal Psikologi Dan Bimbingan Konseling, 19(1). https://journal.cib.institute/index.php/liberosis/article/view/4157

Abstract

The Fourth Industrial Revolution has begun—an era marked by rapid advancements in digital technology, artificial intelligence, and automation that are transforming the way we interact, work, and learn. Thanks to these advancements, we can communicate with anyone, anytime, and anywhere. Everyone can take advantage of these advances in information technology to make it easier for us to search for and receive information. However, there are negative aspects to these advances in information and communication technology; one of them is the lack of a filter to screen out people who might commit crimes in the virtual world, such as cyber aggression. Cyber aggression is an act by an individual that harms others online or through the digital realm (Runions et al., 2017). Sending images, messages, photos, or videos containing threats, insults, or slander online constitutes a form of cyber aggression (Widiasih, 2019). Indonesia is one of many countries with the highest number of internet users in the world. The age group with the highest number of internet users in Indonesia is 13–18 years old, with an internet user rate of 99.16%. Since the majority of internet users are in their early teens, there is concern that they may not yet be able to control their emotions during online disputes, leading to aggression—whether verbal or physical. A concern regarding early adolescents who frequently engage in cyber aggression is that they lack a sense of guilt, have little empathy, are unable to understand others’ feelings, and exhibit emotional shallowness—all of which can cause callous-unemotional traits to take root so rapidly in their personalities. Revolusi industri 4.0 telah dimulai, dimana sebuah era yang ditandai dengan perkembangan pesat dalam teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi yang mengubah cara kita berinteraksi, bekerja dan belajar. Berkat kemudahan ini, kita dapat berkomunikasi dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Semua bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini untuk mempermudah kita mencari informasi, dan menerima informasi. Tetapi ada hal negative dari kemajuan teknologi informasi komunikasi ini, salah satu nya adalah tidak ada penyaring atau filter untuk orang yang akan melakukan kejahatan di dunia maya salah satu nya adalah Cyber Aggression. Cyber Aggression merupakan tindakan seseorang yang menyakiti orang lain secara daring atau melalui dunia maya (Runions dkk., 2017). Mengirim gambar, pesan, foto atau vidio yang berupa ancaman , penghinaan, maupun fitnah di dunia maya merubahan bentuk dari cyber aggression (Widiasih, 2019) . Indonesia merupakan satu dari banyak negara yang merupakan pengguna internet terbanyak didunia. Kelompok usia pengguna internet terbanyak di Indonesia adalah kelompok usa 13-18 tahun dengan angka pengguna internet sebanyak 99,16%. Karena penggguna internet terbanyak di usia remaja awal, di khawatirkan mereka masih tidak bisa mengontrol emosi ketika sedang terjadi pertikaian di dunia maya dan terjadilah agresi baik agresi verbal maupun agresi fisik. Kekhawatiran pada remaja awal yang sering kali melakukan cyber aggression adalah mereka tidak mempunyai rasa bersalah, kurang nya rasa empati, tidak dapat merasakan perasaan orang lain serta kedangkalan emosi yang bisa menyebabkan sifat callous unemotional traits mengakar begitu pesat dalam kepribadian mereka.
PDF

Downloads

Download data is not yet available.