This research aims to identify and analyze the potential for developing post-harvest processing industries for shallot commodities in Nganjuk Regency. This study uses a qualitative descriptive approach with data collection methods through documentation studies, field observations, and in-depth interviews with related stakeholders. The data collected includes production data, processing technology, infrastructure conditions, and supporting policies. The results show that Nganjuk Regency has great potential to develop post-harvest shallot processing industries given its position as the largest shallot production center in East Java with production reaching 183,757.8 tons in 2023. Product diversification such as herbal fried shallots, shallot crackers, and spiced shallot flour has begun to be developed through farmer assistance programs. However, there are still constraints in terms of processing technology, access to capital, and supply chain management. This research concludes that the development of post-harvest shallot processing industries in Nganjuk Regency requires synergy between government, farmers, and industry players in increasing product added value, creating employment, and improving farmer welfare. Recommended suggestions include strengthening processing infrastructure, improving human resource capacity, and developing integrated marketing systems.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi pengembangan industri pengolahan pasca panen komoditas bawang merah di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui studi dokumentasi, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan stakeholder terkait. Data yang dikumpulkan meliputi data produksi, teknologi pengolahan, kondisi infrastruktur, dan kebijakan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Nganjuk memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri pengolahan pasca panen bawang merah mengingat posisinya sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Jawa Timur dengan produksi mencapai 183.757,8 ton pada tahun 2023. Diversifikasi produk olahan seperti bawang goreng herbal, kerupuk bawang, dan tepung bawang merah rempah-rempah telah mulai dikembangkan melalui program pendampingan petani. Namun, masih terdapat kendala dalam hal teknologi pengolahan, akses permodalan, dan manajemen rantai pasok. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan industri pengolahan pasca panen bawang merah di Kabupaten Nganjuk memerlukan sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku industri dalam meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Saran yang direkomendasikan meliputi penguatan infrastruktur pengolahan, peningkatan kapasitas SDM, dan pengembangan sistem pemasaran yang terintegrasi.
References
Antara News. (2019). Panen bawang merah di Nganjuk bagus, lebih dari 20 ton per hektare. Retrieved from https://www.antaranews.com
Direktorat Jenderal Hortikultura. (2023). Industri pengolahan bawang merah harus disegerakan. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Retrieved from https://hortikultura.pertanian.go.id
Direktorat Jenderal Hortikultura. (2023). Nganjuk, surga bawang merah di Jawa Timur. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Retrieved from https://hortikultura.pertanian.go.id
Eksklusif. (2024). Pada 2023, Nganjuk tercatat menghasilkan 183.757,8 ton bawang merah. Retrieved from https://www.eksklusif.co.id
Journal UNESA. (n.d.). Pengolahan produk unggulan daerah bawang merah lokal di Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat, from https://journal.unesa.ac.id
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Pusat Pelatihan Pertanian. (n.d.). Nilai tambah dari olahan bawang merah. Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang. Retrieved from https://bbpplembang.bppsdmp.pertanian.go.id
Teknologi Industri Pertanian UB. (2022). Introduksi teknologi pengolahan bawang merah goreng untuk menciptakan produk bernilai jual tinggi. Retrieved from https://tip.ub.ac.id
Ziana, F. (2023). Analisis risiko dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani bawang merah di Desa Sukorejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 9(2), 1245-1258. doi: 10.25157/ma.v9i2.8756
Maulana, H., Isfania, A., Irfania, Y., Firmansyah, M., Dewa, I., & Delia, H. (2023). Mengembangkan Penjualan Produk Bawang Merah di Lingkungan Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Jurnal Nusantara Berbakti, 1(3), 128- 132. doi: https://doi.org/10.59024/jnb.v1i3.172
Hindarti, S., & Maula, L. R. (2020). Agribisnis Bawang Merah. Deepublish
Tharmizi Hakim. (2023). Buku Monograf Bawang Merah. PT. Dewangga Energi Internasional.