INTEGRASI CABANG DAN ALIRAN FILSAFAT ILMU SEBAGAI KERANGKA BERNALAR KRITIS DI ERA DIGITAL

Main Article Content

Indah Hairun Nisa
Idrus L

Abstract

Perkembangan sains, teknologi digital, dan kecerdasan buatan membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia yang tidak sepenuhnya dapat dipahami atau diselesaikan melalui pendekatan teknis semata. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya memahami cabang-cabang filsafat, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, secara terintegrasi dengan berbagai aliran filsafat, seperti rasionalisme, empirisme, idealisme, pragmatisme, dan eksistensialisme, sebagai suatu kerangka berpikir yang utuh, bukan sekadar pengetahuan teoritis. Pembelajaran filsafat ilmu yang memisahkan antara cabang dan aliran filsafat dapat menyebabkan pemahaman terhadap berbagai persoalan kontemporer menjadi kurang menyeluruh. Melalui pendekatan deskriptif-analitis, pembahasan ini menyoroti relevansi pemikiran filosofis dalam memahami berbagai persoalan modern, seperti bias epistemologis dalam Machine Learning yang berkaitan dengan empirisme, penerapan pragmatisme dalam perkembangan pendidikan, pentingnya pertimbangan aksiologis dalam penggunaan teknologi, serta relevansi eksistensialisme dalam menghadapi persoalan identitas dan pencarian makna di tengah pengaruh media sosial. Dengan demikian, pemahaman terhadap cabang dan aliran filsafat secara holistik penting untuk membangun pola pikir kritis dan reflektif serta memastikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

INTEGRASI CABANG DAN ALIRAN FILSAFAT ILMU SEBAGAI KERANGKA BERNALAR KRITIS DI ERA DIGITAL. (2026). Argopuro: Jurnal Ilmu Bahasa, 14(2). https://journal.cib.institute/index.php/argopuro/article/view/5193

References

1. Abdullah, A. (1995). Dimensi Epistemologis-Metodologis Pendidikan Islam. Jurnal Filsafat, 1(1), 9–18.

2. Abrori, R. (2025). Cabang-Cabang Filsafat dan Aliran-Aliran Filsafat: Systematic Literature Review. Journal of Innovation in Teaching and Instructional Media, 5(2), 507–522. https://doi.org/10.52690/jitim.v5i2.992

3. Anwar, S. (2020). Tinjauan etis (aksiologis) terhadap kecerdasan buatan dalam kehidupan bermasyarakat. Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism, 6(2), 111–125.

4. Audi, R. (Editor). (1999). The Cambridge Dictionary of Philosophy (2 ed.). Cambridge University Press.

5. Badiah, L. I., Masitoh, S., & Nursalim, M. (2023). Filsafat Aliran Progresivisme Dan Kaitannya Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi. HELPER : Jurnal Bimbingan dan Konseling, 40(1), 30–36. https://doi.org/10.36456/helper.vol40.no1.a6322

6. Baylis, F., Darnovsky, M., Hasson, K., & Krahn, T. M. (2020). Human germline and heritable genome editing: The global policy landscape. The CRISPR Journal, 3(5), 365–377. https://doi.org/10.1089/crispr.2020.0082

7. Bertens, K. (2014). Sejarah filsafat kontemporer: Jerman dan Inggris. Gramedia Pustaka Utama.

8. Breil, P. (2024). Sartre, Unaufrichtigkeit und Authentizität in digitalen Selbstverhältnissen. Phänomenologische Forschungen, 2024(2), 30–48.

9. Buckner, C. (2018). Empiricism without magic: Transformational abstraction in deep convolutional neural networks. Synthese, 195(12), 5339–5372. https://doi.org/10.1007/s11229-018-01949-1

10. Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy: With selections from the objections and replies (J. Cottingham, Penerj.). Cambridge University Press.

11. Floridi, L. (2013). The Ethics of Information. Oxford University Press. https://books.google.com/books?id=_XHcAAAAQBAJ

12. Floridi, L. (2010). The philosophy of information as a conceptual framework. Knowledge, Technology & Policy, 23(1–2), 253–281. https://doi.org/10.1007/s12130-010-9112-x

13. Gallagher, S. (2018). Existentialism and the embodied mind in the digital age. Sophia: International Journal of Philosophy and Traditions, 57(2), 221–235.

14. Hadiwijono, H. (1980). Sari sejarah filsafat barat 2. Kanisius.

15. Hariyasasti, Y., Setyawati, L., & Widyawati, N. S. (2025). Aliran-aliran Filsafat Pendidikan dan Tokohnya. Journal of Professional Education Studies and Operations Research, 2(1), 1–19.

16. Hidayat, A. (2020). Diskursus epistemologi pendidikan Islam kontemporer. Jurnal Filsafat, 30(1), 22–45.

17. Jobin, A., Ienca, M., & Vayena, E. (2019). The global landscape of AI ethics guidelines. Nature Machine Intelligence, 1(9), 389–399. https://doi.org/10.1038/s42256-019-0088-2

18. Kattsoff, L. O. (2004). Pengantar filsafat (S. Soemargono, Penerj.). Tiara Wacana.

19. Magnis-Suseno, F. (1997). 13 tokoh etika: Sejak zaman Yunani sampai abad ke-19. Kanisius.

20. Mubarak, Z. (2019). Pragmatisme John Dewey dan relevansinya terhadap sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 9(2), 312–335.

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.