Abstract
Perceraian orang tua memberikan dampak psikologis yang mendalam pada anak, terutama perempuan, yang rentan mengalami trauma, disregulasi emosi, dan ketakutan relasional. Namun, trauma juga dapat menjadi katalisator pertumbuhan positif atau Post-Traumatic Growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif dan memberikan gambaran jelas mengenai perjalanan PTG pada perempuan dewasa awal pasca perceraian orang tuanya semasa remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Partisipan penelitian berjumlah empat perempuan dewasa awal (usia 22-25 tahun) yang mengalami perceraian orang tua saat remaja dan telah berada dalam fase PTG. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjalanan psikologis pasca-perceraian bukanlah proses yang linear, melainkan proses kognitif yang kompleks dan bertahap. Di fase awal, subjek mengalami distres berat berupa ledakan emosi, panic attack, perasaan hampa, serta ketakutan akan transmisi trauma lintas generasi (takut menikah dan punya anak). Seiring waktu, melalui perjuangan kognitif, subjek mengalami pertumbuhan positif yang termanifestasi dalam lima dimensi PTG: Appreciation of Life (mensyukuri ruang aman dan ketenangan sederhana), Relating to Others (meningkatnya empati kognitif dan kedekatan interpersonal selektif), Personal Strength (pembentukan batasan emosional tegas terhadap orang tua dan kemandirian finansial radikal), New Possibilities (modifikasi coping destruktif menjadi kreatif serta rekonstruksi visi keluarga egaliter), dan Spiritual Change (menjadikan Tuhan serta ibadah sebagai safe zone pasca krisis iman). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa meskipun perceraian orang tua meruntuhkan rasa aman, perempuan dewasa awal mampu merekonstruksi makna traumanya menjadi kekuatan personal, kemandirian, dan kematangan psikologis yang lebih matang melalui proses yang bertahap.References
Amato, P. R. (2021). The Consequences of Divorce for Adults And Children. Journal of Marriage and Family
Awaluddin, A. S., Widyastuti, & Zainuddin, K. (2024). Post-Traumatic Growth pada Wanita Dewasa Awal Pasca Perceraian Orang Tua. MediaPsi, 10(2), 268–281. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2024.0010.02.971
Badan Pusat Statistik (BPS), 2024 –2025. Nikah dan Cerai menurut Provinsi https://www.bps.go.id/id/statistics
Bakaitytė, A., Kaniušonytė, G., & Žukauskienė, R. (2022). Posttraumatic growth, centrality of event, trauma symptoms and resilience: Profiles of women survivors of intimate partner violence. Journal of Interpersonal Violence, 37 (21–22). https://doi.org/10.1177/08862605211050110
Byrne, D. (2022). A Worked Example of Braun and Clarke’s Approach to Reflexive Thematic Analysis. Quality & Quantity, 56, 1391–1412. https://doi.org/10.1007/s11135-021-01182-y
Campbell, S., Greenwood, M., Prior, S., Shearer, T., Walkem, K., Young, S., Bywaters, D., & Walker, K. (2021). Purposive Sampling: Complex or Simple? Research Case Examples. Journal of Research in Nursing, 26 (8), 652 –661. https://doi.org/10.1177/1744987120927206
Casali, N., et al. (2021). Gender Differences in Post-Traumatic Growth During COVID-19. Frontiers in Psychology.
Dell’Osso, L., et al. (2022). Post-Traumatic Growth and Resilience in Trauma Survivors. Clinical Neuropsychiatry.
Fadli, M. R. (2021). Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075
GoodStats (2026). Angka Perceraian di Indonesia Naik pada 2025. https://data.goodstats.id/statistic
Kaur, S., et al. (2025). The Protective Role Of Self Compassion in Trauma Recovery And its Moderating Impact On Post Traumatic Symptoms and Post Traumatic Growth. Scientific Reports.
Kristianti, D., & Nurwati, N. (2021). Dampak perceraian orang tua akibat ketidakharmonisan hubungan kedua pihak terhadap pembentukan identitas anak saat remaja: Teori psikososial Erikson. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
Kurniawan, K., Nur’aeni, Y., Nugraha, P., Maysarah, V., Dina, & Zahra, S. (2023). Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Psikososial Anak: A Scoping Review. Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, 11 (2). https://doi.org/10.20527/jdk.v11i2.485
Lundeto, V. P., Kasenda, R. Y., Manengkey, J. M. J., & Pramesti, K. R. (2023). Dampak perceraian orang tua terhadap kenakalan remaja. Innovative: Journal of Social Science Research, 3 (6), 7341 –7348. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/6747
Malini, H., Susanti, H., Susanti, S. S., Alim, S., Putri, A. F., Bintari, D. R., Mahathir, M., Lenggogeni, D. P., Kornhaber, R., Lopez, V., & Cleary, M. (2026). Posttraumatic growth among survivors of natural disaster in Indonesia: A qualitative study. Qualitative Health Research. https://doi.org/10.1177/00469580261417540
Nabila, A., & Itryah. (2024). Kualitas hidup remaja yang mengalami dampak perceraian orang tua. IDEA: Jurnal Psikologi, 8(2). https://doi.org/10.32492/idea.v8i2.8204
Pratiwi, D., et al. (2025). Post-Traumatic Growth pada Remaja Korban Perceraian. Jurnal Psikologi Indonesia.
Rahmah, N., Putri, A., & Lestari, D. (2024). Pendekatan Fenomenologis dalam Penelitian Psikologi Traumatis. Jurnal Psikologi dan Konseling
Ramadani, N. R., & Rahmasari, D. (2022). Posttraumatic growth pada laki-laki penyintas kekerasan seksual. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 10 (2). https://doi.org/10.26740/cjpp.v10i2.53887
Ramadhani, D. S., Yusri, F., Afrinaldi, & Junaidi. (2025). Dampak perceraian orang tua pada emosi remaja (Studi kasus di SMA Negeri 1 Sungai Pua). Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1). https://doi.org/10.31004/jptam.v9i1.25964