Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Articles

Vol. 11 No. 4 (2026): Kohesi: Jurnal Sains dan Teknologi, ISSN 3025-1311

PEMETAAN KAWASAN LONGSOR KABUPATEN LIMAPULUH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH

DOI:
https://doi.cibangsa.org/DOI-2026-131
Submitted
September 7, 2026
Published
2026-09-07

Abstract

Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan wilayah dengan potensi bencana tanah longsor yang cukup tinggi akibat kondisi topografi yang bervariasi serta curah hujan yang relatif tinggi. Bencana longsor dapat menimbulkan kerugian baik secara material maupun sosial, sehingga diperlukan upaya identifikasi daerah rawan longsor sebagai dasar dalam perencanaan mitigasi bencana dan penataan ruang wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis tingkat dan sebaran kerawanan longsor di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan memanfaatkan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skoring, pembobotan, dan overlay terhadap lima parameter utama, yaitu curah hujan, kemiringan lereng, jenis batuan, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Masing-masing parameter diberikan skor dan bobot sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap kejadian longsor, di mana curah hujan memiliki bobot tertinggi 30%, diikuti jenis tanah dan jenis batuan masing-masing sebesar 20%, serta kemiringan lereng dan penggunaan lahan masing-masing sebesar 15%. Proses pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak (software) ArcGis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerawanan longsor di Kabupaten Lima Puluh Kota terbagi menjadi tiga kelas, yaitu klasifikasi rendah dengan luas 10.320,697 Ha, klasifikasi sedang dengan luas 169.445,55 Ha, dan klasifikasi tinggi dengan luas 147.873,913 Ha dari total luas wilayah sebesar 327.640,160 Ha. Sebaran wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi dominan terdapat di Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kecamatan Harau, Kecamatan Bukik Barisan, dan Kecamatan Lareh Sago, sebaran wilayah dengan tingkat kerawanan sedang terdapat di Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kecamatan Bukik Barisan, Kecamatan Harau, dan Kecamatan Gunuang Omeh, sebaran wilayah dengan tingkat kerawanan rendah dominan terdapat di Kecamatan Guguak, Kecamatan Akabiluru, Kecamatan Luak, dan Kecamatan Mungka.

References

  1. Aini, A. (2007). Sistem Informasi Geografis Pengertian dan Aplikasinya. Diakses Dari http://stmik. amikom. ac. id/[Diakses 1 Januari 2025].
  2. Ammelia, I., Lestari, D. S., Al Ghazy, G. T., & Wibowo, Y. A. (2022). Integrasi Materi Kebencanaan Pada Jenjang Sekolah Dasar Di Kecamatan Ngargoyoso, Jawa Tengah. Indonesian Journal of Environment and Disaster, 1(1), 60-72.
  3. Arsyad, U., Barkey, R., Wahyuni, D., & Matandung, K. K. (2018). Karakteristik tanah longsor di daerah aliran Sungai Tangka. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 10(1), 203-214
  4. Awangga, R. M. (2019). Pengantar Sistem Informasi Geografis: Sejarah, Definisi Dan Konsep Dasar. Kreatif.
  5. Derajat, R. M., Somantri, L., & Setiawan, I. (2021). Pemetaan tingkat risiko longsor berbasis sistem informasi geografis di kecamatan cicalengka kabupaten bandung. Jurnal Samudra Geografi, 4(2), 1-6.
  6. Faizana, F., Nugraha, A. L., & Yuwono, B. D. (2015). Pemetaan risiko bencana tanah longsor Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip, 4(1), 223-234.
  7. Inarossy, N., & Prasetyo, S. Y. J. (2019). Klasifikasi Wilayah Risiko Bencana Kekeringan Berbasis Citra Satelit Landsat 8 Oli Dengan Kombinasi Metode Moran’s I dan Getis Ord G*(Studi Kasus: Kabupaten Boyolali dan Klaten). Indonesian Journal of Computing and Modeling, 2(2), 37-54.
  8. Kinanti, A., Awaluddin, M., & Yusuf, M. A. (2023). Analisis Pemetaan Risiko Bencana Tanah Longsor Berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kecamatan Candisari, Kota Semarang). Jurnal Geodesi Undip, 11(3), 121-130.
  9. Kurniawan, A., Budisusanto, Y., & RJ, A. R. (2018). Analisa Potensi Daerah Bencana Tanah Longsor Pada Curah Hujan Rendah Dan Curah Hujan Tinggi Di Kawasan Gunung Wilis. Geoid, 14(1), 75-82.
  10. Kusratmoko, E., dkk. (2002). Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Wilayah Prioritas Penanganan Bahaya Erosi dan Longsor.
  11. Lestari, S., Nugraha, A. L., & Firdaus, H. S. (2019). Pemetaan risiko tanah longsor kabupaten semarang berbasis sistem informasi geografis. Jurnal Geodesi Undip, 8(1), 160-169.
  12. Nandi, S. P., & MT, M. S. (2007). Longsor.
  13. Putra, G. M. P., Mukhtar, M. N. A., Majid, D., & Shofwan, M. (2024). Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor Dengan Menggunakan Metode Weighted Overlay Di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi. WAKTU: Jurnal Teknik UNIPA, 22(02), 88-93.
  14. Taruna, A. C., Somantri, L., & Setiawan, I. (2021). Pemetaan Kawasan Potensi Rawan Longsor berbasis Data Analisis SIstem Informasi Geografis di Kota Cimahi. Jurnal Samudra Geografi, 4(2), 7-13.
  15. Ulfa, M., Zohroh, S. A., & Yuwono, A. I. (2023). Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor Melalui Mitigasi Bencana Di Desa Sadu Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Jurnal Pelita Kota, 4(1), 332-344.
  16. Unde, P., dkk. (2015). "Analisis Penyebab Kejadian dan Evaluasi Bencana Tanah Longsor di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo." Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(2), 272-282.
  17. Yassar, M. F., Nurul, M., Nadhifah, N., Sekarsari, N. F., Dewi, R., Buana, R., ... & Rahmadhita, K. A. (2020). Penerapan Weighted Overlay Pada Pemetaan Tingkat Probabilitas Zona Rawan Longsor di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jurnal Geosains dan Remote Sensing, 1(1), 1-10.
  18. Yuniarta, H., Saido, A. P., & Purwana, Y. M. (2015). Kerawanan bencana tanah longsor Kabupaten Ponorogo. Matriks Teknik Sipil, 3(1).

Similar Articles

21-30 of 327

You may also start an advanced similarity search for this article.