REPRESENTASI TONE WARNA PADA DRAMA KOREA WHEN LIFE GIVES YOU TANGERINES (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)
Keywords:
representasi warna, tone warna, semiotika Roland Barthes, drama Korea, When Life Gives You TangerinesAbstract
Penelitian ini menganalisis representasi tone warna dalam drama Korea When Life Gives You Tangerines melalui semiotika Roland Barthes, dengan fokus pada warna biru dan kuning sebagai elemen visual yang membentuk makna dan menggambarkan perjalanan hidup tokoh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivis. Data berupa 27 adegan dari 16 episode yang didominasi tone biru atau kuning, yang dianalisis melalui tiga tataran makna Barthes, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna biru merepresentasikan kesedihan, kehilangan, ketidakadilan sosial, penyesalan, dan konflik emosional tokoh, sedangkan warna kuning merepresentasikan harapan, kasih sayang keluarga, kehangatan hubungan, dukungan sosial, dan optimisme. Pada tataran mitos, kedua warna menegaskan bahwa penderitaan dan harapan hadir seimbang dalam kehidupan manusia. Penggunaan tone warna dalam drama ini memperkuat representasi perjalanan hidup para tokohnya.References
Abdul, M. M. K., & Sutoyo, S. (2021). Semiótica photostory Mertidusun as a noble value for environmental sustainability. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 729, 12104. https://doi.org/10.1088/1755-1315/729/1/012104
Arsani, J. (2025). Representasi misteri dalam poster drama Light Shop: Analisis semiotika Roland Barthes.
Ayuanda, W., Sidabalok, D., & Perangin-angin, A. B. (2024). Budaya Jawa dalam film Primbon: Analisis representasi Stuart Hall, 7, 440–449.
Azwar, A., & Auliana, I. (2024). Representasi rekayasa sosial dalam film Unlocked (Analisis semiotika Roland Barthes). Ekspresi dan Persepsi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7, 91–105. https://doi.org/10.33822/jep.v7i1.7186
Erlyana, Y., Everlin, S., & Yuwono, I. F. (2023). Analisis color palette berdasarkan rasa warna, 9(3), 396–411.
Fitri, D. N., Noviadi, A., & Munir, S. (2024). Analisis semiotika dalam drama Korea Twinkling Watermelon, 8, 622–636.
Gayego, A., Lutfianti, A., & Amalia, I. (2022). Eksplorasi bahasa warna pada karakter emosional film animasi 'Inside Out', 143–153.
Harahap, H. F., & Hudoyo, S. (2023). Penerapan warna lampu tube luminescent dalam menentukan emosi tokoh pada film Love for Sale 2. TEXTURE: Art & Culture Journal, 6(2), 170–178.
Hasanah, A. H., & Achmad, O. (2023). Analisis semiotika Roland Barthes mengenai ketidakadilan gender dalam film Yuni, 4(2), 1000–1010.
Hidayat, T. P. (2022). Peran penting palet warna dan semiotika dalam, 5(1), 34–47.
Hutagalung, E. T., Rohman, M. Z., & Nyura, Y. (2024). Implementasi teknik sinematografi dan color grading dalam film pendek 'Demi Cinta'. Jurnal Vokasi Teknik (JuVoTek), 2(2), 264–271.
Isnata, D. (2022). Analisis isi pesan dakwah drama Korea True Beauty. Repository.Uinjkt.Ac.Id. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/62348
Laminto, N. K. (2024). Analisis semiotika representasi lookism dalam film serial Netflix 'Mask Girl', 13–35.
Mudjiyanto, B., & Nur, E. (2022). Semiotika dalam metode penelitian komunikasi, 16(1), 73–82.
Muhammad, N., & Rahmad, C. Y. (2022). Tata cahaya dalam membangun unsur dramatik pada film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. TEXTURE: Art & Culture Journal, 5(2), 180–187.
Noel, G. E., & Candraningrum, D. A. (2025). Gerakan sosial kolektif dalam drama Pyramid Game (Studi semiotika Roland Barthes), 114–122.
Nur Islamiah. (2023). Representasi peran public relations dalam drama Korea Shooting Stars.
Nurhayati, A. J. (2024). Metodologi penelitian kualitatif (Teori dan praktik). Sonpedia Publishing Indonesia.
Oktaviandry, S. R., & Setiadi, V. S. (2023). Identifikasi skema warna pada color grading sebagai pembangun mood dalam film animasi Pixar 'Coco'. Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain, 8(2), 151–166. https://doi.org/10.25105/jdd.v8i2.18394
Phillip, O. Y., & Sari, W. P. (2023). Kelas sosial dalam serial drama Squid Game (Studi semiotika Roland Barthes dari perspektif Karl Marx), 437–445.

