PEMBANGUNAN JALUR KERETA API SECANG-PARAKAN DAN PENGARUHNYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI AFDEELING TEMANGGUNG (1905-1930)

Authors

  • Fera Shinta Aulia Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta Author
  • Dyah Ayu Anggraheni Ikaningtyas Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta Author
  • Ririn Darini Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta Author

Keywords:

Kereta Api, Secang-Parakan, Afdeeling Temanggung, Sosial-Ekonomi

Abstract

Afdeeling Temanggung merupakan wilayah agraris penghasil kopi dan tembakau berkualitas tinggi di Karesidenan Kedu yang potensinya terhambat karena keterbatasan sarana transportasi. Kondisi ini yang kemudian mendorong pemerintah kolonial Belanda memberikan konsesi pembangunan jalur kereta api Secang-Parakan kepada Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang pembangunan jalur kereta api Secang-Parakan, mendeskripsikan proses pembangunan jalur, serta menganalisis pengaruhnya terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di Afdeeling Temanggung tahun 1905–1930. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri atas empat tahapan, yakni heuristik (pengumpulan sumber primer dan sekunder), verifikasi sumber (kritik ekstern dan intern), interpretasi (analisis dan sintesis fakta), serta historiografi (penulisan sejarah secara kronologis). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonomi dan sosiologi untuk menganalisis struktur ekonomi dan dinamika sosial masyarakat sebelum maupun sesudah pembangunan jalur kereta api Secang-Parakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan jalur kereta api Secang-Parakan tersebut berlangsung bertahap sejak Mei 1905 dan dipimpin oleh kontraktor Ho Tjong An di tengah tantangan geologis dan topografis pegunungan. Jalur ini membentang sejauh 27,486 km yang mencakup sekitar 287 bangunan teknik dan empat jembatan besar. Pembangunan jalur ini diselesaikan dan resmi dibuka pada tahun 1907 dengan rute yang melewati beberapa pemberhentian utama mulai dari Stasiun Secang, Stasiun Kranggan, Stasiun Temanggung, dan Stasiun Parakan. Dalam perkembangannya, kehadiran jalur kereta api Secang-Parakan ini mampu memberikan kontribusi besar bagi Afdeeling Temanggung. Dalam bidang ekonomi, distribusi kopi dan tembakau ke Semarang menjadi lebih efisien sehingga mendorong tumbuhnya pusat ekonomi baru dan industri cerutu yang menyerap ratusan tenaga kerja lokal. Sementara itu, dalam bidang sosial, jalur ini mampu meningkatkan mobilitas penduduk, mendorong wilayah berstasiun menjadi pusat pertumbuhan, serta berkontribusi dalam pengembangan pariwisata pendakian di Gunung Sumbing dan Sindoro.

References

De Ingenieur Weeksblad, 21 Desember 1907.

De Ingenieur Weeksblad, 28 Desember 1907.

De Locomotief, 27 Desember 1906.

De Locomotief, 26 Juni 1907.

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, 24 Mei 1901.

Sin Po, 21 Oktober 1939.

Volkstelling 1930 Deel II Inheemsche Bevolking van Midden Java

Ashari, Eko. 2014. "Jalur Kereta Api Yogyakarta–Srandakan: Kajian Tentang Perkembangan dan Pengaruhnya Terhadap Sosial-Ekonomi Masyarakat Tahun 1895–1930." Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

De Afdeeling Statistiek ter Algemeene Secretarie. 1876. De Residentie Kadoe: Statistieke Opname en Andere Officieele Bescheiden, Batavia: Landsdrukkerij.

Iksanudin, Arif. 2018. “Perkembangan Perkebunan Tembakau di Karesidenan Kedu Tahun 1836–1900.” Jurnal Prodi Ilmu Sejarah 3 (2): 174–186.

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Mudjiyanto, Bambang "Fenomena Industri Prostitusi dalam Prespektif Subaltern." Jurnal Komunikasi Andalan 8, (1), 2025: 11-36.

Ratnawati, Yusi. "Perkembangan Perkeretaapian Pada Masa Kolonial di Semarang Tahun 1867-1901." Journal of Indonesian History, Vol. 3, No. 2, 2015, hlm. 65-69.

Saraswati, Rosita. 2017. “Peranan Transportasi Kereta Api Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi di Kabupaten Temanggung Tahun 1907–1930.” Skripsi, Universitas Sebelas Maret.

Snellemen, John F. 1921. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie: Deel IV Soekapoera-Kolot-Zijdeplanten. Leiden: E.J. Brill dan Martinus Nijhoff.

Stibbe, D. G. 1921. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie: Deel IV Soemb.-Z. Leiden: E.J. Brill dan Martinus Nijhoff.

Sugiarta. 2018. “Jaringan Transportasi dan Dinamika Ekonomi di Karesidenan Kedu Abad XIX hingga awal Abad XX.” Lembaran Sejarah 14 (2): 125–141.

Susilo, Agus dan Sarkowi. 2020. “Pengaruh Politik Cultuurstelsel terhadap Perkembangan Masyarakat Indonesia Tahun 1830–1870.” Jurnal Swadesi (1): 14–16.

Thamrin, Husni, Putut Trihusodo, dan Soediran. 2008. Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung 1945–1950. Temanggung: Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45.

Downloads

Published

2026-10-07