PENGGAK MEN MERSI: GERAKAN KEBUDAYAAN DARI TAHUN 2010 HINGGA 2024
DOI:
https://doi.org/10.2238/7wbmvh70Keywords:
gerakan kebudayaan, Penggak Men Mersi, pelestarian budaya Bali, Ajeg Bali, komunitas berbasis masyarakatAbstract
Fenomena homogenisasi budaya akibat globalisasi, urbanisasi, dan arus modernisasi mendorong berbagai komunitas lokal di Bali membangun strategi pelestarian identitas budaya secara mandiri, salah satunya melalui gerakan Ajeg Bali yang melahirkan komunitas-komunitas budaya berbasis masyarakat. Di wilayah Kesiman, Denpasar Timur, kondisi ini melahirkan Penggak Men Mersi pada tahun 2010, sebuah komunitas yang berdiri dari keprihatinan terhadap rapuhnya penggak sebagai ruang diskusi tradisional masyarakat Bali. Penelitian ini bertujuan mengungkap latar belakang berdirinya, dinamika perkembangan, serta faktor pendukung eksistensi Penggak Men Mersi sebagai gerakan kebudayaan sepanjang tahun 2010–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data primer diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan Penglingsir Puri Agung Kesiman, pendiri dan pengurus komunitas, tokoh adat, serta budayawan, dilengkapi observasi nonpartisipan, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan teknik penyajian naratif-kronologis dan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penggak Men Mersi diinisiasi oleh Anak Agung Gede Ngurah Kusumawardana sebagai respons atas melemahnya fungsi penggak, kemudian berkembang menjadi ruang literasi budaya, pelestarian bahasa dan sastra Bali, kajian sejarah, penerbitan karya ilmiah, serta pementasan seni yang melibatkan akademisi, budayawan, dan generasi muda. Komunitas ini juga aktif merespons persoalan aktual, seperti minimnya ruang kritis pada rubrik budaya media massa Bali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Penggak Men Mersi bertransformasi dari ruang diskusi tradisional menjadi gerakan kebudayaan berbasis masyarakat yang adaptif, dengan implikasi pentingnya kolaborasi puri, komunitas, dan generasi muda dalam pelestarian identitas budaya Bali di tengah dinamika global.References
Badan Pusat Statistik. 2020. 'Jumlah dan Distribusi Penduduk'. sensus.bps.go.id.
Bourdieu, Pierre. 1986. 'The Forms of Capital'. Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood Press.
Febrian, Rio, Muhammad Fajrul Islam, dan Purnama Yudistira. 2025. 'Peran Budaya dalam Pembentukan Identitas Manusia'. Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, Vol. 3, No. 2. Pekanbaru: Universitas Muhammadiyah Riau.
Flynn, Simone I. 2019. 'Social Movement Theory: New Social Movement Theory'. Amerika Serikat: EBSCO.
Joniarta, I Wayan, Melati Budi Srikandi, dan Nuning Indah Pratiwi. 2023. 'Pemberdayaan Krama Desa dalam Pelestarian Budaya Bali Perspektif Ajeg Bali'. Jurnal Sinestesia, Vol. 13, No. 1. Denpasar: Universitas Pendidikan Nasional.
Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Sleman: Tiara Wacana.
Ningtyas, Eka. 2018. 'Mepeed dan Wacana Ajeg Bali: Sukawati Pasca Bom Bali 2002'. Lembaran Sejarah, Vol. 14, No. 2. Prancis: INALCO.
Rahmaniah, Aniek. 2012. Identitas Budaya. Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya.
Rai, I Wayan. 2009. 'Pendidikan Kebudayaan Bali (PKB) Sebagai Strategi Mewujudkan Ajeg Bali'. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Vol. 42, No. 1. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Raka, Anak Agung Gde, dkk. 2017. Bali dalam Perspektif Budaya dan Pariwisata. Denpasar: Pustaka Larasan.
Pebriani, Anisa, dkk. 2024. 'Identitas Budaya dalam Konteks Perubahan Sosial'. Jurnal Nakula: Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial, Vol. 2, No. 1. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Sinambela, Lasria, dkk. 2024. 'Penguatan Identitas Budaya Pada Pemuda Indonesia Melalui Komunikasi Partisipatif Program Perintis NGO IBEKA'. Jurnal Communicology, Vol. 12, No. 2. Jakarta: Universitas Mpu Tantular.
UNESCO. 2003. Convention for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Wijaya, I Nyoman. 2013. 'Puri Kesiman: Saksi Sejarah Kerajaan Badung'. Jurnal Kajian Bali, Vol. 3, No. 1. Denpasar: Universitas Udayana.
Wisnu, I Wayan Gede, Ida Ayu Putu Purnami, dan Ida Bagus Made Ludy Paryatna. 2022. 'Pelatihan Visualisasi Karya Fiksi Melalui Naskah Lontar pada Rumah Budaya Penggak Men Mersi Kesiman'. Proceeding Senadimas Undiksha 2022. Denpasar: Universitas Pendidikan Ganesha.

