HUBUNGAN LITERASI MEDIA DIGITAL DENGAN KEMAMPUAN MEMBEDAKAN KRITIK SUBSTANTIF DAN NARASI HOAKS DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA (UNIKOM)

Authors

  • Septina Putri Hermawan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, Indonesia Author
  • Dirly Miba Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, Indonesia Author
  • Irgi Rully Indrawan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, Indonesia Author
  • Aos Kuswandi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung, Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.2238/3m7n0709

Keywords:

Literasi Media Digital, Hoaks, Kritik Substantif, Disinformasi, BBM Bersubsidi, Mahasiswa

Abstract

Perkembangan ekosistem digital yang pesat menciptakan tantangan serius berupa maraknya disinformasi dan narasi hoaks di ruang publik siber, khususnya pada isu-isu sensitif seperti kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara literasi media digital mahasiswa dengan kemampuan membedakan kritik substantif berbasis data dari narasi hoaks yang manipulatif. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UNIKOM yang dipilih secara purposive dengan kriteria aktif mengonsumsi media sosial minimal 3–4 jam per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan teknis digital yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan ketajaman berpikir kritis dalam menyaring informasi. Ditemukan empat tipologi perilaku: (1) cognitive miser yang mengandalkan opini kolom komentar; (2) bias estetika visual yang menjadikan kualitas tampilan sebagai ukuran kredibilitas; (3) kompetensi lateral reading yang mampu memverifikasi informasi secara mandiri; dan (4) kerentanan terhadap social proof dan tekanan komunal digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi media digital yang komprehensif mencakup dimensi kognitif-analitis, bukan sekadar kecakapan teknis merupakan instrumen proteksi krusial bagi mahasiswa di era pasca-kebenaran (post-truth).

References

Aziz, Z. A. (2025). Peran literasi media dalam menangkal penyebaran hoaks di era digital. Ijtida: Journal of Da'wah and Communication, 5(2), 248–264.

Haliq, A., Hafid, A., Asriadi, & Nojeng, A. (2025). Tingkat literasi digital: Kemampuan mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 11(2).

Orhan, A. (2023). Fake news detection on social media: the predictive role of university students' critical thinking dispositions and new media literacy. Smart Learning Environments, 10(29), 1–18. https://doi.org/10.1186/s40561-023-00248-8

Pratama, A. R., & Utama, B. S. (2024). Kompetensi literasi media mahasiswa ilmu komunikasi dalam menghadapi fenomena post-truth di media sosial. Jurnal Kajian Media, 8(1), 45–58.

Pratama, F. R., Komariah, N., & Rodiah, S. (2022). Hubungan antara kemampuan literasi digital dengan pencegahan berita hoaks di kalangan mahasiswa. Informatio: Journal of Library and Information Science, 2(3), 165–184.

Downloads

Published

2026-07-25