Analisis Wacana Kritis Perselingkuhan Intrafamilial dalam Film
DOI:
https://doi.org/10.2238/8y3kx696Keywords:
Perselingkuhan Intrafamilial, Analisis Wacana Kritis, Representasi, Kritik Sosial, KomodifikasiAbstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi representasi perselingkuhan intrafamilial dalam film Ipar Adalah Maut dan Norma: Antara Mertua dan Menantu serta mengidentifikasi kecenderungan orientasi pembuat film dalam merepresentasikan fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough melalui dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. Data diperoleh dari analisis adegan film, studi dokumentasi, studi pustaka, serta respons audiens di media sosial dan media daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua film merepresentasikan perselingkuhan intrafamilial sebagai persoalan sosial yang berkaitan dengan pelanggaran norma moral, nilai agama, relasi kekerabatan, budaya patriarki, dan ketimpangan relasi kuasa. Pada praktik diskursif, kedua film merupakan adaptasi kisah viral yang diproduksi melalui mekanisme industri budaya dan didukung promosi digital. Pada praktik sosial budaya, konstruksi wacana dipengaruhi oleh budaya digital, nilai agama, budaya patriarki, serta komodifikasi kasus viral dalam industri perfilman Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa kedua film memadukan kritik sosial dan komodifikasi, namun dengan kecenderungan yang berbeda. Ipar Adalah Maut lebih menonjolkan kritik sosial terhadap keretakan relasi keluarga, sedangkan Norma: Antara Mertua dan Menantu lebih dominan mengedepankan komodifikasi pengalaman personal korban tanpa menghilangkan fungsi kritik sosial.References
Anantya, A., & Abdullah, M. N. A. (2024). Perceraian di era digital: Kasus perselingkuhan menjadi tren di media sosial dan dampaknya. SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara, 3(2), 100–107. https://doi.org/10.55123/sabana.v3i2.3313
Chasanti, H. R. A., & Rahardjo, T. (2024). Pembingkaian perselingkuhan pada film Ipar Adalah Maut. Interaksi Online, 13(1), 748–758. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/48838
Eriyanto. (2009). Analisis wacana: Pengantar analisis teks media. LKiS.
Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.
Fairclough, N. (1995). Media discourse. Edward Arnold.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.
Hartati, E., & Sumarlam. (2022). Representasi perempuan: Sebuah analisis wacana kritis pada penokohan Kinan dalam serial Layangan Putus. Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS), 4, 153–157.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Mosco, V. (2009). The political economy of communication (2nd ed.). Sage Publications.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Wahyuni, T. P. (2023). Representasi perselingkuhan dalam pernikahan pada film Noktah Merah Perkawinan [Skripsi sarjana, Universitas Islam Indonesia]. Repository Universitas Islam Indonesia. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/46590

