STRATEGI PELESTARIAN BAHASA TOMBULU SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT DI KELURAHAN WOLOAN DUA KECAMATAN TOMOHON BARAT
DOI:
https://doi.org/10.2238/as95yt15Keywords:
Strategi Pelestarian Tombulu, kalangan muda, Kelurahan Woloan DuaAbstract
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji cara-cara melestarikan bahasa Tombulu sebagai wujud identitas budaya masyarakat yang tinggal di Kelurahan Woloan, Kecamatan Tomohon Barat. Fokus penelitian ini adalah pada perubahan bahasa serta ketidakberlanjutan antargenerasi yang muncul di tengah modernisasi. Dengan melihat dari sudut identitas dan ideologi, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan bahasa ini bukan disebabkan oleh hilangnya rasa cinta terhadap budaya, melainkan sebagai tanggapan rasional dari orang tua yang melihat bahwa bahasa nasional dan global memiliki keunggulan linguistik yang lebih besar untuk peluang masa depan anak-anak mereka. Meskipun demikian, identitas Tombulu yang tersembunyi tetap terjaga ketika berinteraksi dengan generasi yang lebih tua. Dari sudut pandang perencanaan bahasa, penelitian ini menemukan bahwa ada kekurangan dalam kebijakan.Oleh karena itu, penelitian ini berhasil mencapai tujuannya dengan menciptakan strategi intervensi yang menyeluruh melalui perencanaan status, yaitu dengan memasukkan momentum budaya itu ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) dan kegiatan ekstrakurikuler di tingkat sekolah dasar, serta memberikan dukungan berupa modul yang meyakinkan orang tua akan pentingnya penguasaan bahasa daerah sebagai bentuk kecerdasan bilingual, sehingga bahasa Tombulu bisa diposisikan ulang dari sekadar simbol identitas menjadi komponen yang lebih signifikan.References
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji cara-cara melestarikan bahasa Tombulu sebagai wujud identitas budaya masyarakat yang tinggal di Kelurahan Woloan, Kecamatan Tomohon Barat. Fokus penelitian ini adalah pada perubahan bahasa serta ketidakberlanjutan antargenerasi yang muncul di tengah modernisasi. Dengan melihat dari sudut identitas dan ideologi, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan bahasa ini bukan disebabkan oleh hilangnya rasa cinta terhadap budaya, melainkan sebagai tanggapan rasional dari orang tua yang melihat bahwa bahasa nasional dan global memiliki keunggulan linguistik yang lebih besar untuk peluang masa depan anak-anak mereka. Meskipun demikian, identitas Tombulu yang tersembunyi tetap terjaga ketika berinteraksi dengan generasi yang lebih tua. Dari sudut pandang perencanaan bahasa, penelitian ini menemukan bahwa ada kekurangan dalam kebijakan.Oleh karena itu, penelitian ini berhasil mencapai tujuannya dengan menciptakan strategi intervensi yang menyeluruh melalui perencanaan status, yaitu dengan memasukkan momentum budaya itu ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) dan kegiatan ekstrakurikuler di tingkat sekolah dasar, serta memberikan dukungan berupa modul yang meyakinkan orang tua akan pentingnya penguasaan bahasa daerah sebagai bentuk kecerdasan bilingual, sehingga bahasa Tombulu bisa diposisikan ulang dari sekadar simbol identitas menjadi komponen yang lebih signifikan.

