Abstract
Pembahasan mengenai peran perempuan dalam dunia politik, terutama dalam posisi kepemimpinan, masih menjadi perdebatan. Sebagian ulama dan cendekiawan menilai secara negatif keterlibatan perempuan di bidang politik, dengan mendasarkan pandangan mereka pada penafsiran tekstual terhadap ayat al-Qur’an dan hadis yang dianggap melarang perempuan berpolitik. Pandangan semacam ini sering kali dipengaruhi oleh budaya patriarki yang telah lama tertanam dalam masyarakat.Penelitian ini tidak bermaksud menentang pandangan tersebut, melainkan berupaya memperluas pemahaman terhadap makna ayat-ayat al-Qur’an melalui kajian terhadap kisah Ratu Balqis. Kisah ini berawal dari laporan burung Hud-hud kepada Nabi Sulaiman tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang perempuan, yaitu negeri Saba’. Negeri tersebut dikenal makmur, subur, memiliki bendungan besar bernama Ma’rib, berposisi strategis sebagai pusat perdagangan internasional, dan memiliki kekuatan militer yang kuat. Al-Qur’an bahkan menggambarkannya sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi pustaka (library research) dengan menelaah serta menganalisis penafsiran sejumlah mufasir dalam karya tafsir mereka, seperti Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Azhar karya Hamka, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Imam al-Qurthubi, dan Fi Zhilal al-Qur’an karya Sayyid Quthb. Ratu Balqis dapat dipandang sebagai simbol feminisme sejati. Ayat-ayat dalam surah an-Naml (23–42) menggambarkan sifat kepemimpinannya yang demokratis, bijaksana, mengutamakan musyawarah, cerdas, berwibawa, serta menjunjung tinggi keselamatan rakyat dan menolak kekerasan. Dari kisah ini, dapat diambil pelajaran bahwa perempuan memiliki potensi dan kompetensi kepemimpinan yang setara dengan laki-laki.References
Abi al-Husain Ahmad Ibn Faris Zakariyya. Mu’jam Maqayis al-Lughah. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
Akhmad Rifai. “Kepemimpinan Perempuan dalam Kisah Ratu Balqis.” Jurnal Kajian Islam Kontemporer, Vol. 9, No. 2 (2021): 122–130.
Al-Qur’an al-Karim. Departemen Agama Republik Indonesia: Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Bernard M. Bass. Bass & Stogdill’s Handbook of Leadership. New York: Free Press, 1990.
Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid 7. Jakarta: Kementerian Agama, 2010.
Fatimah Mernissi. Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan. Terj. Rahmani Astutik dkk. Bandung: MizN, 1994.
Fitriyani. “Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Studi Pemikiran M. Quraish Shihab.” Skripsi. Universitas Paramadina, 2014.
Gary Yukl. Leadership in Organizations, 8th ed. Pearson Education, 2013.
George R. Terry. Principles of Management. Illinois: R.D. Irwin, 1964.
Hamka. Tafsir al-Azhar, Jilid 5. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
Hamka. Tafsir al-Azhar, Jilid 7. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
Hamka. Tafsir al-Azhar, Jilid V. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Jilid 6. Beirut: Dar al-Fikr, 2000.
Ibnu Khaldun. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.
Imam al-Qurthubi. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid 13. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.
M. N. Ibad. Perempuan dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011.
M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah, Jilid 7. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996.
Musdah Mulia. Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender. Jakarta: Gramedia, 2005.
Nasruddin Baidan. Metodologi Penafsiran al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.