Articles
ANALISIS PERDAGANGAN INTERNASIONAL KOMODITAS PETERNAKAN DOMBA DI INDONESIA: KAJIAN EKSPOR DAN IMPOR PERIODE 2023–2025
Published 2026-07-03
Keywords
- gandum,
- impor,
- perdagangan internasional,
- ekonomi internasional,
- ketahanan pangan
How to Cite
ANALISIS PERDAGANGAN INTERNASIONAL KOMODITAS PETERNAKAN DOMBA DI INDONESIA: KAJIAN EKSPOR DAN IMPOR PERIODE 2023–2025. (2026). Musytari : Jurnal Manajemen, Akuntansi, Dan Ekonomi, 25(8). https://doi.org/10.2238/fhaf6p66
Abstract
Sebagai sumber daya mentah utama bagi sektor pangan, yang menghasilkan tepung terigu, mi instan, roti, biskuit, dan produk olahan lainnya, gandum merupakan komoditas pertanian penting dalam perdagangan internasional. Karena kondisi agroklimat yang kurang menguntungkan untuk budidaya komersial, produksi gandum lokal masih sangat terbatas, meskipun permintaan gandum di Indonesia terus meningkat. Akibatnya, kebutuhan industri dan konsumen Indonesia dipenuhi oleh impor gandum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perkembangan perdagangan gandum luar negeri Indonesia antara tahun 2023 dan 2026, mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi impor gandum, dan mengevaluasi dampaknya terhadap perekonomian negara. Dalam penelitian ini, metodologi penelitian kepustakaan dikombinasikan dengan metode kualitatif. World Integrated Trade Solution (WITS), USDA Foreign Agricultural Service (USDA-FAS), Badan Pusat Statistik (BPS), dan buku, jurnal, serta makalah ilmiah terkait lainnya merupakan sumber data sekunder yang digunakan. Berdasarkan data perdagangan internasional, studi deskriptif dilakukan untuk menunjukkan evolusi impor gandum Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa Indonesia terus menjadi salah satu importir gandum terbesar di dunia, dengan kuantitas impor umumnya meningkat seiring dengan perluasan sektor pengolahan makanan dan meningkatnya permintaan konsumen. Harga gandum global berdampak pada variasi impor. Ketahanan pangan negara dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk nilai tukar rupiah, kondisi produksi di negara-negara pengekspor utama, dan dinamika geopolitik global. Meskipun ketergantungan pada impor membantu memastikan pasokan bahan baku industri pangan, hal itu juga meningkatkan bahaya bagi ketahanan pangan negara jika rantai pasokan global terganggu. Oleh karena itu, untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan pangan nasional, diperlukan kebijakan perdagangan yang adaptif, diversifikasi pangan lokal, dan penciptaan komoditas pengganti.References
- Alfiansyah, R., & Marseto, M. (2025). Analisis faktor harga internasional gandum, penggunaan gandum, PDB, dan jumlah penduduk terhadap impor gandum Indonesia. Jurnal Oikos, 9(1), 45–58.
- Anugraheni, A., Darwanto, D., & Rohmah, W. (2024). Determinants of Indonesia's wheat imports. Journal of Agribusiness Management and Development, 5(1), 15–28.
- Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia: Impor 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
- Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Indonesia 2025. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
- Bank Indonesia. (2024). Laporan Perekonomian Indonesia 2024. Jakarta: Bank Indonesia.
- Departemen Pertanian Amerika Serikat. (2025). Indonesia Grain and Feed Annual 2025. Washington, DC: USDA Foreign Agricultural Service.
- Hutahaean, R., Yusiana, E., & Wicaksana, D. (2026). Analisis tren impor gandum dan faktor yang memengaruhi impor gandum Indonesia dari lima negara mitra impor. Jurnal Agribisnis Indonesia, 14(1), 30–44.
- International Economics: Theory and Policy. (2022). Pearson Education.
- Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2024). Laporan Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2024. Jakarta: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
- Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2023). Analisis Perkembangan Industri Makanan dan Minuman Indonesia. Jakarta: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
- Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. (2024). FAOSTAT: Crops and Livestock Products. Roma: FAO.
- World Integrated Trade Solution. (2024). Indonesia Wheat Import Data. Washington, DC: World Bank.