Articles
Published 2026-06-25
Keywords
- impor peternakan,
- ketahanan pangan,
- komoditas hewani,
- perdagangan Asia,
- daging kerbau
- susu,
- Indonesia ...More
How to Cite
ANALISIS POLA IMPOR KOMODITAS PETERNAKAN INDONESIA DARI NEGARA-NEGARA ASIA TAHUN 2025. (2026). Musytari : Jurnal Manajemen, Akuntansi, Dan Ekonomi, 25(7). https://doi.org/10.2238/n97zej34
Abstract
Sektor peternakan Indonesia menghadapi tantangan struktural berupa ketergantungan terhadap impor komoditas hewani dari negara-negara Asia untuk memenuhi kebutuhan protein nasional yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola impor komoditas peternakan Indonesia dari sembilan negara Asia pada tahun 2025, mencakup struktur komoditas, nilai perdagangan, dan implikasinya terhadap ketahanan pangan nasional. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif-kuantitatif berbasis data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan kompilasi data perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia tahun 2025(Widianingrum & Septio, 2023) . Hasil analisis menunjukkan bahwa total estimasi nilai impor komoditas peternakan dari kawasan Asia pada tahun 2025 berkisar antara USD 1,5 hingga 2,3 miliar. India mendominasi sebagai pemasok utama dengan komoditas daging kerbau beku (HS 02) senilai USD 900 juta hingga USD 1,2 miliar, diikuti oleh China yang mengekspor produk susu, whey, dan gelatin (HS 04 dan 05) senilai USD 300–500 juta. Thailand dan Malaysia turut berkontribusi melalui perdagangan intra-ASEAN berupa daging olahan dan produk susu(Amijaya et al., 2026). Adapun Jepang dan Korea Selatan memasok produk bernilai tinggi seperti enzim farmasi dan susu olahan industri. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa struktur impor peternakan Indonesia belum seimbang: impor masih didominasi oleh daging (HS 02) dan susu (HS 04), mencerminkan lemahnya kapasitas industri hilir peternakan domestik. Ketergantungan ini berimplikasi pada kerentanan ketahanan pangan nasional terhadap fluktuasi pasar internasional dan dinamika geopolitik kawasan. Penguatan produksi dalam negeri, pengembangan industri pengolahan hasil ternak, serta diversifikasi mitra dagang menjadi rekomendasi strategis yang mendesak untuk mewujudkan kemandirian pangan sektor peternakan Indonesia.(Riset et al., 2025).References
- Amijaya, R. A., Hidayat, S. I., & Yulianti, N. (2026).
- Helmiah, N. (2021). INDONESIA-AUSTRALIA ( IA-CEPA ) TERHADAP PASAR DAGING SAPI DOMESTIK
- Hukum, F., & Trunojoyo, U. (2021). Pengaturan Impor Pangan Negara Indonesia Berbasis pada Kedaulatan Pangan. 14(1), 1–9.
- Riset, J., Daka, Y., Yudha, P., Zaky, M., Anwar, K., & Dienasti, D. P. (2025).
- Suryana, A. (2025). MENUJU KETAHANAN PANGAN INDONESIA BERKELANJUTAN 2025 : TANTANGAN DAN PENANGANANNYA Toward Sustainable Indonesian Food Security 2025 : Challenges and Its Responses. 123–135.
- Syam, J., Peternakan, J. I., Islam, U., Alauddin, N., Syam, J., Peternakan, J. I., Negeri, I., & Makassar, A. (2027).
- The International Society for Southeast Asian Agricultural Sciences. (n.d.). 2(1).
- Vikaliana, R., Iskandar, Y. A., Trihardani, L., Amelia, P., & Purba, O. (2025).
- Widianingrum, D. C., & Septio, R. W. (2023). Peran Peternakan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia : Kondisi , Potensi , dan Peluang Pengembangan. 2(3), 285–291.
- Wulandari, D. I., Hoesni, F., Jambi, U., & Km, J. J. B. (2022).