Abstract
Masa remaja awal merupakan fase krusial dalam pembentukan konsep diri, di mana individu rentan mengalami krisis identitas atau role confusion jika berada dalam lingkungan pengasuhan kolektif yang monoton. Penelitian berbasis pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menguji efektivitas program psikoedukasi kreatif (Who Am I, Kartu Aku Bisa, Jurnal Refleksi Diri, dan Botol Rahasia Harapanku) dalam memperkuat self-awareness anak asuh di Yayasan Al-Abror. Menggunakan desain eksperimen semu berbentuk pre-test dan post-test kelompok, penelitian ini melibatkan lima orang partisipan remaja awal berusia 11-12 tahun yang dipilih menggunakan teknik kriteria ketersediaan. Pengukuran kuantitatif dilakukan melalui instrumen Self-Perception for Child oleh Susan Harter (1985), yang kemudian ditriangulasikan dengan metode observasi perilaku dan analisis jurnal refleksi. Hasil analisis data menunjukkan adanya penurunan nilai rata-rata (mean) total skor persepsi diri secara signifikan dari 51,0 (pre-test) menjadi 39,8 (post-test), yang dalam parameter alat ukur ini mengindikasikan rekonstruksi cara pandang diri ke arah yang jauh lebih positif, optimal, dan percaya diri. Intervensi berbasis aktivitas kelompok terbukti efektif mereduksi kecemasan perseptual, meningkatkan perasaan diterima secara sosial, serta menguatkan nilai keberhargaan diri global (global self-worth) anak asuh panti asuhan.References
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. New York: W. W. Norton & Company.
Harter, S. (1985). The Self-Perception Profile for Children: Revision of the Perceived Competence Scale for Children. Denver: University of Denver.
Harter, S. (2012). The construction of the self: Developmental and sociocultural perspectives. Guilford Press.
Kolb, D. A. (2015). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. FT press.
Downloads
Download data is not yet available.