HIJAU BERSAMA: MODEL PENGHIJAUAN PARTISIPATIF DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENANAMAN KEMIRI DAN JENGKOL DI DESA SEI SEGAJAH MAKMUR, KECAMATAN KUBU, KABUPATEN ROKAN HILIR
DOI:
https://doi.org/10.2238/g1t8qd74Keywords:
KUKERTA partisipatif, penghijauan, pemberdayaan masyarakat, kemiri dan jengkol, Desa Sei Segajah MakmurAbstract
Latar Belakang: Desa Sei Segajah Makmur, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau merupakan desa dengan kondisi penghijauan yang masih didominasi oleh tanaman kelapa sawit sebagai komoditas monokultur, sehingga keberagaman vegetasi permukiman masih rendah dan berpotensi menimbulkan erosi serta berkurangnya resapan air tanah. Selain itu, pelaku UMKM desa belum terdigitalisasi, desa belum memiliki plang identitas dan peta wilayah yang representatif, serta edukasi gizi, literasi keuangan, dan pencegahan kenakalan remaja pada anak dan remaja masih minim. Program Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau Membangun Kampung 2026 Gelombang 3 dilaksanakan pada 22 Juni hingga 29 Juli 2026 (40 hari), melibatkan 10 mahasiswa lintas disiplin ilmu di bawah bimbingan satu Dosen Pembimbing Lapangan sebagai respons atas permasalahan tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan partisipatif berbasis observasi lapangan, open space diskusi bersama kelompok tani dan perangkat desa, serta audit kesiapan lahan dan masyarakat, yang diwujudkan melalui tiga program kerja inti yaitu “Hijau Bersama” (penanaman 60 bibit kemiri dan jengkol), pencantuman UMKM ke Google Maps, dan pembuatan-pemasangan plang identitas desa, serta tujuh program kerja tambahan di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-kemasyarakatan. Hasil menunjukkan seluruh program kerja inti tercapai 100% dan program kerja tambahan tercapai 80-90%, memperkuat kapasitas lingkungan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat desa secara komprehensif. Program ini membuktikan bahwa model KUKERTA partisipatif berbasis potensi lokal efektif sebagai model penghijauan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan yang berkelanjutan.References
Bretzel, F. F., Vannucchi, D., Romano, F., Malorgio, F., Benvenuti, S., & Pezzarossa, B. (2016). Wildflowers: From conserving biodiversity to urban greening: A review. Urban Forestry & Urban Greening, 20, 428–436.
Darmawan, D. (2021). Tanaman perkebunan prospektif Indonesia. Pasuruan: Qiara Media.
Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian. (2008). Pedoman budidaya kemiri (Aleurites moluccana Willd.). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian.
Herman, M., Syakir, M., Pranowo, D., & Saefudin, S. (2013). Kemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw): Tanaman penghasil minyak nabati dan konservasi lahan. Bogor: Indonesian Center for Estate Crops Research and Development.
Olivia, A. P., Rani, A. R., Laoli, W. J. S., Fadhillah, F., Mas’ud, M. A., Ananda, T., Adinda, L. J., Janzen, A. I., Linpas, N., & Khairani, F. (2024). Analisis dampak sosial dan ekonomi terhadap rendahnya minat pendidikan di Desa Kemuning Muda: Peran program KKN dalam peningkatan kesadaran pendidikan.
Pratiwi, S. (2016). Rancangan model pelatihan sumber daya manusia berbasis e-training dalam rangka implementasi learning organization (organisasi pembelajar). Jurnal Manajemen Pendidikan, 7(1), 25–32.
Sastrapraja, S. (2012). Perjalanan panjang tanaman Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Shafwan, A., Tanggasari, D., Ariskanopitasari, A., Rizaldi, L. H., Mikhratunnisa, M., & Ardiansyah, A. (2023). Pelatihan inovasi pemanfaatan hasil laut. https://doi.org/10.56910/safari.v3i3.717
Sukmawati, A., Wulandari, R., & Sari, I. (2022). Analisis potensi ekonomi tanaman jengkol dalam sistem agroforestri. Jurnal Agroforestri Indonesia, 4(1), 25–33.
Widyatmoko, D., & Mulyani, A. (2018). Pemilihan spesies lokal untuk rehabilitasi lahan terdegradasi. Jurnal Kehutanan Tropika, 16(2), 77–84.

