KONSEP DIRI JAMAAH ISLAM AHMADIYAH (Studi Fenomenologi pada Keluarga Jamaah Islam Ahmadiyah di Kota Cimahi)
Keywords:
konsep diri, Jamaah Islam Ahmadiyah, fenomenologi, stigma sosial, komunikasi antar kelompokAbstract
Keberadaan Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas di Kota Cimahi berhadapan dengan stigma, prasangka, dan pengalaman diskriminatif yang dapat memengaruhi cara anggota jamaah memahami identitas diri serta membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan memahami pemaknaan keluarga Jamaah Islam Ahmadiyah terhadap pengalaman hidup sebagai kelompok minoritas, pola interaksi sosial mereka, dan interpretasi yang dilakukan ketika berhadapan dengan kelompok dominan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan paradigma konstruktivis-interpretatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi terhadap empat anggota keluarga Jamaah Islam Ahmadiyah di Kota Cimahi. Analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan penguatan kredibilitas melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri partisipan terbentuk melalui proses pemaknaan identitas keagamaan, interaksi sosial yang adaptif, serta interpretasi terhadap stigma sebagai konsekuensi dari keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai Ahmadiyah. Partisipan cenderung menggunakan komunikasi dialogis, perilaku sosial positif, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan prinsip tabayun untuk mengurangi kesalahpahaman. Konsep diri tidak terbentuk secara instan, melainkan berkembang melalui pengalaman komunikasi, penguatan keyakinan, dan negosiasi makna dalam kehidupan sehari-hari.References
Blumer, H. (1969). Symbolic interactionism: Perspective and method. Prentice-Hall.
Colbran, N. (2020). Making the Ahmadiyya un-Islamic in Indonesia: The implementation of religious freedom. Asian Journal of Law and Society, 6(2), 443–466.
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2021). The SAGE handbook of qualitative research (6th ed.). SAGE.
DiComo, R. A., & Mychailyszyn, M. (2021). Stigma and help-seeking among refugee, asylum seeker, and immigrant Muslim populations. Journal of Muslim Mental Health, 15(1).
Hidayat, R., & Pratiwi, D. (2023). Konstruksi identitas diri jamaah Ahmadiyah pasca-fatwa MUI: Analisis fenomenologi hermeneutik di Bandung Raya. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 19(2), 112–130.
Kavish, D. (2020). Identity, stigma, and social reaction. Societies, 10(1), 28.
Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2021). Theories of human communication (12th ed.). Waveland Press.
Nasir, T. M. (2021). Negotiating Ahmadi identity in Indonesia: Everyday lived experiences of stigma and self-concept formation. Journal of Muslim Minority Affairs, 41(3), 289–305.
Orbe, M. P., & Roberts, T. L. (2019). Co-cultural communication theory. In S. W. Littlejohn, K. A. Foss, & J. G. Oetzel (Eds.), Theories of human communication (12th ed.).
Setara Institute. (2022). Laporan kebebasan beragama di Indonesia.
Siregar, F. H., & Rahman, A. (2024). Pengalaman lived jamaah Ahmadiyah dalam membentuk konsep diri di tengah intoleransi. Jurnal Psikologi Sosial, 22(1), 34–50.
Wahid Foundation. (2023). Laporan intoleransi di Indonesia.
Wahyudi, A., & Nugroho, E. (2022). Dinamika identitas sosial jamaah Ahmadiyah di Cimahi: Pendekatan fenomenologi Husserl. Jurnal Antropologi Indonesia, 43(1), 78–95.

