PEMAKNAAN FOLLOWERS TERHADAP CANCEL CULTURE DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (Studi Fenomenologi pada Selebgram Jule)
Keywords:
Cancel Culture, Instagram, Followers, fenomenologi Alfred Schutz, Because Motive, In Order To Motive, hubungan parasosialAbstract
Fenomena Cancel Culture di media sosial menjadi bentuk respons kolektif pengguna terhadap figur publik yang dianggap melakukan pelanggaran norma, nilai moral, atau ekspektasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis Because Motive (motif karena), In Order To Motive (motif tujuan), serta pemaknaan Followers dan non-Followers terhadap fenomena Cancel Culture pada selebgram Jule di Instagram. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif, dan metode fenomenologi dengan perspektif Alfred Schutz. Informan dipilih secara purposive dan terdiri atas enam pengguna Instagram, yaitu tiga Followers dan tiga non-Followers Jule: Ayunda, Alya, Gina, Rifqi, Rafi, dan Agis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Because Motive terbentuk melalui pengalaman mengikuti perkembangan kasus, pengalaman pribadi dan nilai moral, serta informasi yang diperoleh melalui media sosial. In Order To Motive terutama diarahkan pada pemberian efek jera, penyampaian kritik sebagai kontrol sosial, dan dorongan perubahan perilaku figur publik. Pemaknaan Cancel Culture memiliki dua sisi: sebagai kritik sosial yang masih dapat diterima ketika berbasis fakta dan proporsional, serta sebagai penghakiman ketika berubah menjadi hinaan, serangan personal, ujaran kebencian, atau boikot tanpa ruang klarifikasi. Hubungan parasosial menjadi faktor yang membedakan proses pemaknaan Followers dan non-Followers.References
Altamira, M., & Movementi, S. (2022). Fenomena Cancel Culture di Indonesia: Sebuah tinjauan literatur. Jurnal Vokasi Indonesia, 10, 37. https://doi.org/10.7454/jvi.v10i1.1177
Aula, P. (2010). Social media, reputation risk and ambient publicity management. Strategy and Leadership, 38(6), 43–49. https://doi.org/10.1108/10878571011088069
Clark, M. (2020). DRAG THEM: A brief etymology of so-called “Cancel Culture.” Communication and the Public, 5. https://doi.org/10.1177/2057047320961562
Creswell, J. W. (2013). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. SAGE.
Hartmann, T., & Goldhoorn, C. (2011). Horton and Wohl revisited: Exploring viewers’ experience of parasocial interaction. Journal of Communication, 61(6), 1104–1121. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.2011.01595.x
Horton, D., & Wohl, R. (1956). Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance. Psychiatry, 19(3), 215–229.
Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons, 53(1), 59–68. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2009.09.003
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. SAGE.
Marwick, A. (2015). Instafame: Luxury Selfies in the Attention Economy. Public Culture, 27, 137–160. https://doi.org/10.1215/08992363-2798379
Ng, E. (2020). No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation. Television & New Media, 21, 621–627. https://doi.org/10.1177/1527476420918828
Nindito, S. (2013). Fenomenologi Alfred Schutz: Studi tentang konstruksi makna dan realitas dalam ilmu sosial. Jurnal ILMU KOMUNIKASI, 2(1), 79–95. https://doi.org/10.24002/jik.v2i1.254
Schutz, A. (1967). The Phenomenology of the Social World. Northwestern University Press.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Srikandi, M. B., Suparna, P., & Haes, P. E. (2023). Followers sebagai gatekeeper pada media sosial. Perspektif Komunikasi, 7(2), 179–192.
Tukachinsky Forster, R., & Stever, G. (2018). Theorizing development of parasocial experiences.
We Are Social. (2023). Digital 2023 Indonesia: Platform Social Media yang Sering Digunakan di Indonesia.

