REVITALISASI PURI AGENG MENGWI SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MENGWI MASA PEMERINTAHAN ANAK AGUNG GEDE AGUNG (2005 –2015)

Authors

  • Ni Luh Putu Sastriani Utari Universitas Udayana Author
  • I Ketut Ardhana Universitas Udayana Author
  • Putu Dyah Pradnya Paramitha Universitas Udayana Author

DOI:

https://doi.org/10.2238/7abhrw68

Keywords:

revitalisasi, Puri Ageng Mengwi, identitas budaya, Mangupura, Kerajaan Mengwi

Abstract

Puri Ageng Mengwi merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mengwi yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan sosial penting bagi masyarakat Mengwi serta Kabupaten Badung. Berakhirnya sistem kerajaan menyebabkan perubahan fungsi Puri dari pusat pemerintahan menjadi kawasan yang berperan dalam pelestarian sejarah dan budaya. Pada masa pemerintahan Anak Agung Gde Agung (2005–2015), dilakukan berbagai upaya untuk menghidupkan kembali fungsi kawasan sebagai identitas budaya Mengwi melalui penamaan Mangupura sebagai ibu kota Kabupaten Badung, pelestarian kawasan Puri Ageng Mengwi, serta penguatan kawasan budaya yang didukung oleh pengakuan Pura Taman Ayun sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2012. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana kawasan Puri Ageng Mengwi memperoleh kembali fungsi sebagai identitas budaya Mengwi, faktor-faktor pendorongnya, serta implikasi yang ditimbulkan. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui wawancara dengan Penglingsir Puri Ageng Mengwi, pengelola Pura Taman Ayun, pedagang, juru parkir, dan petani, serta didukung buku, jurnal ilmiah, dokumen pemerintah, dan arsip. Analisis dilakukan dengan teori perubahan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Puri Ageng Mengwi tidak diwujudkan melalui pembangunan fisik, melainkan melalui penguatan fungsi simbolik kawasan sebagai identitas budaya. Faktor pendorong revitalisasi meliputi pelestarian warisan sejarah, perubahan fungsi Puri, kebijakan Pemerintah Kabupaten Badung yang berorientasi pada pelestarian budaya, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap identitas budaya Mengwi. Revitalisasi tersebut memberikan implikasi terhadap pelestarian budaya, kehidupan sosial, aktivitas ekonomi masyarakat Mengwi, serta memperkuat identitas Kabupaten Badung.

References

Anonim. 2020. Pedoman Penyusunan Skripsi FIB Unud 2020. Denpasar: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Adnyawati, Ida Ayu Agung. 2023. 'Bridging Tradition and Tourism in Puri Saren Agung Ubud'. Bali Tourism Journal, Vol. 7, No. 3.

Firdausyah, Anandya Ghifari dan Santy Paulla Dewi. 'Pengaruh Revitalisasi Terhadap Pola Ruang Kota Lama Semarang'. Jurnal Riptek, Vol. 15, No. 1.

Nordholt, Henk Schulte. The Spell of Power: Sejarah Politik Bali 1650–1940. Denpasar: Pustaka Larasan.

Sandijaya, Maulana. 'Discursus of Management of Taman Ayun Temple After UNESCO Determined as a Part of World Cultural Heritage'. E-Journal Cultural Studies, Vol. 12, No. 3.

Santoso, Budi. 'Batlasa dan Identitas Budaya'. Jurnal Undip, Vol. 1, No. 1.

Sidemen, Ida Bagus. 1991. Lima Masalah Pokok dalam Teori Sejarah. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Wijaya, Nyoman. Diskontinyuitas Sejarah & Budaya Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.

Wulansari, Anak Agung Ayu Andra. 2023. 'Pura Taman Ayun Sebagai Destinasi Wisata Budaya di Mengwi, Badung 2012–2022'. Skripsi. Denpasar: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2009 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Badung dari Wilayah Kota Denpasar ke Wilayah Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

UNESCO. 'Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy'. https://whc.unesco.org.

Downloads

Published

2026-07-29