PENCIPTAAN KARYA TARI “DIGITAL DREAMS” DI KOMUNITAS SEKUNI KABUPATEN KLUNGKUNG

Authors

  • Putu Dylan Adi Pramana Institut Seni Indonesia Bali Author
  • Rinto Widyarto Institut Seni Indonesia Bali Author
  • Tudhy Putri Apyutea Kandiraras Institut Seni Indonesia Bali Author

DOI:

https://doi.org/10.2238/dmqh3z57

Keywords:

Penciptaan, Tari Kontemporer, Digital Dreams, Metode Penciptaan Komunitas Sekuni

Abstract

Penciptaan ini dilaksanakan di Komunitas Sekuni Kabupaten Klungkung dengan menciptakan sebuah tari kontemporer baru. Tarian kontemporer yang berjudul “Digital Dreams”. Tahap pembuatan karya tari kontemporer ““Digital Dreams”” merupakan proses kreatif yang dimulai dari penggalian ide hingga perwujudan bentuk pertunjukan yang utuh. Proses ini berangkat dari sumber kreatif berupa fenomena sosial tentang dampak negatif dominasi kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan manusia, khususnya di bidang pendidikan. Tujuan penciptaan tari ini supaya audiens dapat mengetahui pengalaman pencipta lewat karya ini. Penciptaan tari “Digital Dreams” ini menggunakan tiga tahapan dari Alma Hawkins, yaitu eksplorasi, improvisasi, forming dan evaluasi. Melalui metode pembelajaran Drill, penciptaan tari ini juga melibatkan proses pembelajaran dan pelatihan peserta didik secara infensif agar kelompok penari dapat menguasai esensitas gerakan pada tari “Digital Dreams”. Adapun medium dan media yang digunakan antara lain gerak, iringan tari, tata rias dan busana, panggung, dan tata pencahayaan. Tahap-tahap yang digunakan yakni tahap inspirasi, tahap eksplorasi, tahap konsepsi, tahap eksekusi, tahap produksi. Estetika pada karya tari “Digital Dreams” dapat dilihat dari desain koreografi, tata rias dan busana, serta penyajian yang ditata secara artistik agar menjadi satu garapan yang utuh dan layak disajikan dihadapan khalayak umum. Adapun unsur estetika pada karya ini seperti wujud, bobot, dan penampilan.

References

Bandem, I Made. (1983). Gerak Tari. Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia.

Cerita, I Nyoman. (2020). Tari Kontemporer Dalam Pesta Kesenian Bali: Antara Eksistensi, Hegemoni dan Marginalisasi. Buku Analisis Tari Kontemporer Bali.

Cooper, M. (2022). The specter of automation. Philosophia, 50, 1013–1028.

Dibia, I Wayan. (2003). Bergerak Menurut Kata Hati: Metode Baru dalam Menciptakan Tari. Jakarta: Ford Foundation & Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Djelantik, A. A. M. (1999). Estetika: Sebuah Pengantar. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Hadi, Y Sumandiyo. (2012). Koreografi. Yogyakarta: Dwi Quantum.

Hadi, Y. S. (2011). Koreografi (Bentuk-Teknik-Isi). Yogyakarta: Cipta Media.

Hadi, Y. Sumandiyo. (2003). Menciptakan Lewat Tari. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Hawkins, A. M. (1990). Mencipta lewat tari (Creating through dance). Terjemahan Y. S.Hadi. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.

Hadi, Sumandiyo. (2003). Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta: UNS Press.

Hendro, Martono. (2008). Sekelumit Ruang Pentas. Yogyakarta: Cipta Media.

Ibtissem, T. (2024). The phenomenon of alienation and its contemporary. Philosophia, 50, 1030–1043.

Indrayuda. (2021). “Fenomena Tari Kontemporer Dalam Karya Tari Mahasiswa”. Jurnal Tari Kontemporer.

Jazuli, M. (2016). Peta Dunia Seni Tari. CV Farishma Indonesia.

Martono, H. (2010). Mengenal tata cahaya seni. Yogyakarta: Cipta Media.

Martono, H. 2012. Panggung pertunjukan dan berkesenian. Yogyakarta: Multi Grafindo.

Meri, L. (1986). Elemen-elemen dasar komposisi tari. Terjemahan Soedarsono, Yogyakarta: Logaligo.

Malaka, Tan. (2023). Aksi Massa. Yogyakarta: NARASI.

Maryono. (2012). Analisa Tari. Solo: ISI Press Solo.

Mulyadi. (2010) Evaluasi Pendidikan. Malang: UIN Maliki Press, 168-171

Downloads

Published

2026-07-28