PEMBANGUNAN KOTA DAN TRANSFORMASI BUDAYA MASYARAKAT ASLI DEPOK (2005-20024)
DOI:
https://doi.org/10.2238/6gxjby66Keywords:
Depok, pembangunan perkotaan, masyarakat asli, transformasi budaya, hibriditas, suburbanisasi, gotong royongAbstract
Pembangunan Kota Depok yang berlangsung pesat sejak tahun 2005 telah menghasilkan perubahan signifikan terhadap struktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal. Dinamika urbanisasi, pertumbuhan permukiman, serta peningkatan jumlah pendatang menjadikan transformasi budaya sebagai fenomena yang penting untuk dianalisis dalam konteks sosiologi pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan Kota Depok pada periode 2005-2024 terhadap transformasi budaya masyarakat asli Depok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap dua informan, yaitu seorang penduduk asli yang telah bermukim sejak tahun 1980 dan seorang pendatang yang berstatus mahasiswa, serta didukung oleh studi pustaka dari berbagai penelitian dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggunaan lahan dari sektor agraris, seperti perkebunan dan perikanan, menuju kawasan permukiman, rumah kontrakan, rumah kos, serta sektor jasa dan perdagangan, yang berdampak pada perubahan struktur ekonomi masyarakat. Dari segi sosial, intensitas gotong royong dan kedekatan antarwarga mengalami penurunan akibat meningkatnya mobilitas, aktivitas ekonomi, dan pola hidup yang semakin individualistis. Meskipun demikian, hubungan antara masyarakat asli dan pendatang tetap berlangsung secara terbuka, harmonis, dan adaptif. Pada dimensi budaya, pembangunan tidak menghilangkan identitas budaya lokal, melainkan mendorong terbentuknya proses adaptasi dan hibriditas budaya melalui perpaduan antara nilai-nilai tradisional dengan pengaruh budaya baru. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan untuk menjaga kohesi sosial, mempertahankan identitas budaya lokal, serta menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan masyarakat lokal dalam proses perencanaan pembangunan, penyediaan ruang-ruang pelestarian budaya, serta penguatan nilai kebersamaan sebagai strategi untuk menghadapi tantangan urbanisasi.References
Januar, A. (2016). Pola Praktik Kehidupan Komunitas Orang Asli Kukusan Di Depok Jawa Barat. Patanjala, 8(2), 171-186.
Suryana, A., & Penutup, D. I. (2020). Globalisasi, Suburbanisasi Jakarta dan Transformasi Sosial Ekonomi Depok. Universitas Indonesia.
Masyani El Hamid, M. (2026). Gamelan Ajeng Sanggar Gong Si Bolong: Hibriditas Musikal dan Transformasi Identitas Budaya di Kota Depok Jawa Barat (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
Suryana, A. (2004). Transformasi Sosial Pribumi Depok Tahun 1930-1960. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 6(2), 29-48.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

