PERAN KOMUNITAS KAKAO DALAM PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KAKAO DI KABUPATEN JEMBRANA TAHUN 2006-2024

Authors

  • Bhakti Yoga Vedanta Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Author
  • Ida Ayu Wirasmini Sidemen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Author
  • Putu Dyah Pradnya Paramitha Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Author

DOI:

https://doi.org/10.2238/8r000n39

Keywords:

Komunitas Kakao, Koperasi, Sejarah Ekonomi, Perkebunan, Jembrana

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis mengapa komunitas kakao menjadi aktor penting dalam perkembangan perkebunan kakao di Kabupaten Jembrana pada periode 2006 –2024. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif melalui empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumen dan arsip yang berkaitan dengan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum tahun 2006, kakao di Jembrana dibudidayakan secara individual tanpa organisasi ekonomi yang kuat, meskipun kelembagaan adat berupa subak abian telah tersedia sebagai modal sosial. Pendirian Koperasi Kerta Semaya Samaniya pada 2006 membuka babak baru, meskipun sempat diuji oleh krisis hama pada 2009 yang membuat produksi koperasi jatuh mendekati titik nol. Masuknya Yayasan Kalimajari pada 2011 membawa sertifikasi mutu dan sinergi empat pilar antara petani, koperasi, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah, yang mengantarkan kakao Jembrana meraih pengakuan internasional Cocoa of Excellence pada 2017, ekspor perdana pada 2018, status Desa Devisa pada 2019, hingga penguatan kelembagaan dan transisi ke pertanian organik pada periode 2021–2024. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan drastis pada nilai kakao Jembrana tidak dapat dijelaskan oleh sifat biologis tanaman yang relatif konstan, melainkan oleh kapasitas komunitas dalam mengorganisasikan diri dan mendistribusikan peran di antara berbagai aktor yang terlibat

References

Ambarawati, I. G. A. A., & Esterina, N. P. A. (2024). Cocoa producers' decision on fermenting beans in Jembrana Regency, Bali Province, Indonesia. Advances in Social Sciences Research Journal, 11(2).

Ardhana, I. K. (2025). Pengantar ilmu sejarah historiografi kritis: Teori, metodologi, dan penerapannya. Udayana University Press.

Dewi, N. L. M. I. M., et al. (2015). Analisis finansial dan nilai tambah pengolahan kopi arabika di Koperasi Tani Manik Sedana Kabupaten Bangli. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 4(2), 97.

Evizal, R. (2014). Dasar-dasar produksi perkebunan. Graha Ilmu.

Ginting, W. A., et al. (2019). Peranan program sertifikat UTZ terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani kakao di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Jurnal Agribisnis, 2, 68–76.

Hamid, A. R., & Madjid, M. S. (2011). Pengantar ilmu sejarah. Penerbit Ombak.

Koentjaraningrat. (1985). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi sejarah (Edisi Kedua). Tiara Wacana Yogya.

Putri, H. J., & Murhayati, S. (2025). Metode pengumpulan data kualitatif. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 13076–13079.

Ramadhana, I. H., Suardi, I. D. P. O., & Dewi, R. K. (2021). Peran Yayasan Kalimajari dalam pendampingan sertifikasi kakao lestari di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 10(1), 2.

Republik Indonesia. (1992). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Romdona, S., et al. (2025). Teknik pengumpulan data: Observasi, wawancara dan kuisioner. Jurnal Ilmu Sosial Ekonomi dan Politik, 3(1), 43–45.

Soekanto, S. (1983). Sosiologi suatu pengantar. Rajawali Pers.

Soemardjan, S., & Soemardi, S. (1973). Setangkai bunga sosiologi. Universitas Indonesia.

Suwitha, I. P. G. (2011). Bali dari sisi lain: Sejarah perkebunan di Bali 1870–1965. Cakra Press.

Touwen, J. (2001). Extremes in the archipelago: Trade and economic development in the outer islands of Indonesia, 1900–1942. KITLV Press.

UNESCO World Heritage Centre. (n.d.). Cultural landscape of Bali Province: The subak system as a manifestation of the Tri Hita Karana philosophy. UNESCO World Heritage List.

Downloads

Published

2026-07-20