ANALISIS ISI KONTEN INSTAGRAM @keratonjogja: NEGOSIASI BUDAYA DOMINAN, RESIDUAL, DAN EMERGEN DALAM PERSPEKTIF CULTURAL STUDIES RAYMOND WILLIAMS
DOI:
https://doi.org/10.2238/vt436k53Keywords:
Cultural Studies, Raymond Williams, budaya dominan, budaya residual, budaya emergen, negosiasi budaya, Instagram, Keraton YogyakartaAbstract
Penelitian ini mengkaji negosiasi budaya dominan, residual, dan emergen dalam konten Instagram @kratonjogja menggunakan kerangka Cultural Studies Raymond Williams. Sebagai institusi budaya tertua yang masih hidup, Keraton Yogyakarta telah bertransformasi ke ranah digital dengan mengelola akun Instagram @kratonjogja sebagai museum virtual. Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis isi terhadap tiga konten terpilih: Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng (budaya dominan), Beksan Nyakrakusuma (budaya residual), dan Pameran Pangastho Aji (budaya emergen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya dominan direpresentasikan melalui simbol otoritas dan hegemoni kultural; budaya residual dilestarikan melalui pelestarian kesenian klasik yang dikemas dalam format digital; dan budaya emergen muncul dalam inovasi format pameran kuratorial modern yang interaktif dan partisipatif. Proses negosiasi antarketiga bentuk budaya berlangsung secara dinamis dan simultan, di mana budaya dominan menginkorporasi elemen-elemen emergen untuk memperkuat hegemoninya, sementara budaya residual tetap dipertahankan melalui strategi komunikasi digital yang inovatif. Penelitian ini menegaskan relevansi kerangka Raymond Williams dalam memahami dinamika pelestarian budaya di era media sosial dan memberikan kontribusi bagi pengembangan Cultural Studies di Indonesia.References
Aryandari, C. (2026a). Decentralization vs Cultural Centralization : The Paradox of Dangdut Koplo in Indonesian Popular Music. 41(1).
Aryandari, C. (2026b). Decentralization vs Cultural Centralization: The Paradox of Dangdut Koplo in Indonesian Popular Music. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 41(1). https://doi.org/10.31091/mudra.v41i1.3173
Divasetya, A., Fatmawati, A., Ilmi, A. H., & Salsabila, A. H. (2023). Praktik Dokumentasi Gendhing Gati oleh Keraton Yogyakarta. 14(2), 95–104. https://doi.org/10.20885/unilib.Vol14.iss2.art3
Eagleton, T. (1976). Marxism and Literary Criticism. Methuen & Co. Ltd / Routledge (Taylor & Francis e-Library, 2006).
Fajar S, S., & Tania, S. (2022). Pengelolaan Media Sosial untuk Pelestarian Budaya: Studi Kasus Pengelolaan Konten Media Sosial @kratonjogja oleh Tepas Tandha Yekti [Universitas Gadjah Mada]. http://etd.repository.ugm.ac.id/
Kharismawati, M., Hidayat, A., Media, B., Pascasarjana, S., & Mada, U. G. (n.d.). Analisis Kritis atas Peran Instagram dalam Representasi Pariwisata dan Konstruksi Identitas Budaya : Studi Kasus Pada Makam Raja Yogyakarta. 2(2). https://doi.org/10.62771/pk.
Sari, W., Bajari, A., Hafiar, H., & Lestari, P. (2021). The Utilization of Social Media and Digital Technology in Kraton Yogyakarta . RIGE : Review of International Geographical Education Online, 11(5).
Sonkar, N. (2025). Raymond Williams and the Politics of Culture: A Critical Analysis of Culture and Society and the Foundations of Cultural Materialism. The Creative Launcher, 10(2). https://doi.org/https://doi.org/10.53032/tcl.2025.10.2.29
Wijayanti, Y. T., Damastuti, R., & Zahra, L. (2022). Content Analysis of Instagram Account @ kratonjogja as a Digital Marketing Media for Tourism During the Covid-19 Pandemic. Iccs, 393–402.
Williams, R. (1977). Marxism and Literature. Oxford: Oxford University Press.

