PENYULUHAN PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN SAPI MENJADI KOMPOS BAGI PETANI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KECAMATAN MEREK KABUPATEN KARO
PDF

Keywords

Penyuluhan pertanian
Kotoran Sapi
Kompos Limbah Kotoran Sapi
Bawang Merah
Sikap Petani

Abstract

Pertanian strategis di Indonesia menempatkan sektor hortikultura sebagai pilar utama dalam mendukung kemandirian pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Kabupaten Karo merupakan salah satu sentra produksi utama khususnya bawang merah di Provinsi Sumatera Utara. Proses produksi usahatani pada dasarnya ditentukan oleh besarnya biaya yang dikeluarkan oleh petani, hal ini menjadi permasalahan umum bagi petani bawang merah. Petani bawang merah di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, menghadapi beban biaya yang cukup besar, terutama yang berkaitan dengan penggunaan sarana produksi. Pupuk kimia yang digunakan dalam budidaya bawang merah memiliki harga yang relatif tinggi serta rentan terhadap fluktuasi harga. Oleh sebab itu, kegiatan penyuluhan memiliki peran penting dalam memberikan informasi, serta perubahan sikap petani mengenai pengolahan kotoran sapi menjadi kompos yang layak digunakan dalam pertanian. Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah, demonstrasi cara, diskusi, kunjungan usaha tani setempat dan melaksanakan evaluasi menggunakan kuesioner terhadap 35 orang petani. Hasil Kegiatan Menunjukkan dampak yang positif bagi petani dimana penyuluhan dapat memberikan pemahaman cara pembuatan an aplikasi dari pupuk kompos yang memanfaatkan limbah kotoran sapi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sikap petani terhadap pemanfaatan kompos dari limbah kotoran sapi pada tanaman bawang merah berada pada kategori sangat baik ditunjukkan dari jumlah petani yang menunjukkan minatnya dalam pembuatan kompos dari limbah kotoran sapi. Pemanfaatan limbah kotoran sapi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia maupun pupuk organik yang berasal dari luar daerah dan mulai memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar masyarakat setempat yang selama ini hanya menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan karena keterbatasan sumber informasi.
DOI: https://doi.cibangsa.org/DOI-2026-437
PDF

References

Abdallah, E. H., Musa, Y., Mustafa, M., Sjahril, R., & Riadi, M. (2013). Comparison between hydro- and osmo-priming to determine period needed for priming indicator and its effect on germination percentage of aerobic rice cultivars (Oryza sativa L.). AGRIVITA Journal of Agricultural Science, 38(3), 222-230. http://doi.org/10.17503/agrivita.v38i3.886

Bolda, M. L., Tourte, L., Klonskyk, K. M., & de Moura, R. L. (2005). Sample cost to produce fresh market rasberries. Berkeley, US: University of California Cooperative Extension.

Mardikanto, T., & Pertiwi, P. R. (2022). Metode dan teknik penyuluhan pertanian (Edisi 3). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo. (2024). Kecamatan Merek dalam angka 2024. Karo: BPS Kabupaten Karo.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. (2024). Sumatera Utara dalam angka 2024. Medan: BPS Provinsi Sumatera Utara.

Tuong, T. P., & Bouman, B. A. M. (2003). Rice production in water-scarce environments. In W. Kijne, R. Barker, & D. Molden (Eds.), Water productivity in agriculture: Limits and opportunities for improvement (pp. 53–67). Manila, PH: CAB International.

Hapsari, L. & Masrum, A. (2011). Diversity and characteristics of banana (Musa acuminata) diploid AA cultivars group collection of Purwodadi botanic garden. In D. Widyatmoko, D. M. Puspitaningtyas, R. Hendrian, Irawati, I. A. Fijridiyanto, J. R. Witono, R. Rosniati, S. R. Ariati, S. Rahayu, & T. Ng Praptosuwiryo (Eds.), Conservation of tropical plants: Current condition and future challenge. Paper presented at Proceedings of Seminar Cibodas Botanic Garden 159th Anniversary, Cibodas (pp. 225-229). Cibodas, ID: Indonesian Institute of Sciences

Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 47/permentan/sm.010/9/2016 adalah Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian