ANALISIS PELUANG DAN ANCAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL INDONESIA DALAM KOMODITAS PERIKANAN DENGAN JEPANG
PDF

Keywords

Fisheries Export
Japan Market
Trade Opportunities
SPS Regulation
IJEPA
Indonesia 2025
Ekspor Perikanan
Pasar Jepang
Peluang Perdagangan
Regulasi SPS

Abstract

Japan stands as one of Indonesia's most strategic and enduring fisheries export partners, consistently absorbing approximately USD 613.65 million worth of Indonesian seafood in 2025—a 2.5% year-on-year increase—placing it fourth among all national export destinations. Against the backdrop of intensifying geopolitical trade pressures, including the 32% reciprocal tariff imposed by the United States in April 2025, Japan's role as a stable and high-value alternative market has never been more significant. This study conducts a comprehensive analysis of the opportunities and threats embedded in the Indonesia–Japan fisheries trade relationship, employing a descriptive-quantitative approach supplemented by SWOT analysis and policy literature review. Primary data sources include BPS, KKP–Ditjen PDSPKP quarterly reports, the FAO Fisheries Statistics Database, and the IJEPA trade framework documentation. Findings reveal that shrimp (Vannamei and Windu) dominates exports at an estimated 38% share with 8.2% growth, while Tuna-Skipjack-Tongkol (TCT) remains stagnant at 0.3% due to intense competition from Vietnam and the Philippines. Key opportunities include Japan's rapidly growing premium seafood segment, underutilized IJEPA tariff preferences, surging demand for MSC/ASC-certified products, and untapped potential in processed ready-to-eat seafood and seaweed derivative exports. Threats encompass Japan's stringent and dynamically evolving SPS regulations under the Food Sanitation Act, escalating competition from Vietnam and India, yen depreciation eroding the purchasing power of Japanese importers, and reputational risks arising from sustainability-related NGO campaigns. The study recommends a coordinated national strategy encompassing accelerated international certification, intensive IJEPA utilization campaigns, product value-addition (hilirisasi), and systematic regulatory monitoring as the most viable pathway to consolidate and expand Indonesia's position in the Japanese premium seafood market. Jepang merupakan salah satu mitra dagang ekspor perikanan paling strategis dan berkelanjutan bagi Indonesia, secara konsisten menyerap sekitar USD 613,65 juta produk perikanan Indonesia pada tahun 2025 dengan pertumbuhan 2,5% year-on-year, sehingga menempatkan Jepang pada posisi keempat di antara seluruh negara tujuan ekspor nasional. Di tengah tekanan perdagangan geopolitik yang semakin intensif, termasuk tarif resiprokal 32% yang diberlakukan Amerika Serikat pada April 2025, peran Jepang sebagai pasar alternatif yang stabil dan bernilai tinggi menjadi semakin krusial. Penelitian ini melakukan analisis komprehensif terhadap peluang dan ancaman yang terkandung dalam hubungan perdagangan perikanan Indonesia–Jepang, menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif yang diperkaya analisis SWOT dan telaah literatur kebijakan. Sumber data utama mencakup BPS, laporan triwulanan KKP–Ditjen PDSPKP, FAO Fisheries Statistics Database, dan dokumentasi kerangka perdagangan IJEPA. Temuan menunjukkan udang (Vannamei dan Windu) mendominasi ekspor dengan estimasi pangsa 38% dan pertumbuhan 8,2%, sementara Tuna-Cakalang-Tongkol (TCT) stagnan di 0,3% akibat persaingan ketat dari Vietnam dan Filipina. Peluang utama mencakup segmen seafood premium Jepang yang tumbuh pesat, preferensi tarif IJEPA yang belum dimanfaatkan optimal, meningkatnya permintaan produk bersertifikat MSC/ASC, serta potensi ekspor produk olahan siap saji dan turunan rumput laut yang belum tergarap. Ancaman utama meliputi regulasi SPS Jepang yang ketat dan dinamis di bawah Food Sanitation Act, persaingan yang meningkat dari Vietnam dan India, depresiasi yen yang menggerus daya beli importir Jepang, serta risiko reputasi akibat kampanye LSM lingkungan terkait keberlanjutan. Penelitian ini merekomendasikan strategi nasional terkoordinasi yang mencakup percepatan sertifikasi internasional, kampanye intensif pemanfaatan IJEPA, hilirisasi produk, dan pemantauan regulasi yang sistematis sebagai jalur paling layak untuk mengkonsolidasikan dan memperluas posisi Indonesia di pasar seafood premium Jepang.
DOI: https://doi.org/10.2238/apjx7505
PDF

References

Amri, M. I., Tahir, R., Haris, A., Agusanty, H., & Saleh, M. S. (2024). Tren ekspor komoditas perikanan Indonesia: Pola, tantangan, dan peluang. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 8(2), 44–62.

Badan Pusat Statistik. (2025a). Ekspor ikan segar/dingin hasil tangkap menurut negara tujuan utama, 2012–2024. Jakarta: BPS. Diakses dari https://www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik. (2025b). Data kinerja ekspor dan impor produk perikanan Indonesia Januari–November 2025. Jakarta: BPS. Diakses dari https://www.bps.go.id

Food and Agriculture Organization (FAO). (2024). The state of world fisheries and aquaculture 2024: Blue transformation in action. Rome: FAO. https://doi.org/10.4060/cd0683en

Japan Ministry of Finance. (2025). Japan Trade Statistics: Fisheries imports by country of origin 2021–2025. Tokyo: MoF. Diakses dari https://www.customs.go.jp/toukei/info/

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. (2025a). Ekspor naik, surplus neraca perdagangan perikanan 2024 naik 9,1% [Siaran Pers SP.127/SJ.5/III/2025]. Jakarta: KKP. Diakses dari https://kkp.go.id

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. (2025b). Rilis data kelautan dan perikanan triwulan I–2025. Jakarta: PPID KKP. Diakses dari https://ppid.kkp.go.id/media/uploads/document_information_public/Rilis_Data_Kelautan_dan_Perikanan_Triwulan_I2025.pdf

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. (2025c). Urai hambatan ekspor, KKP jalin perjanjian kesetaraan mutu dengan 38 negara [Siaran Pers SP.156/SJ.5/IV/2025]. Jakarta: KKP. Diakses dari https://kkp.go.id

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. (2026, Februari). Ekspor perikanan tembus USD 6,27 miliar di 2025: Komoditas Indonesia makin bernilai di pasar global. Jakarta: KKP. Diakses dari https://kkp.go.id

Kementerian Perdagangan RI. (2025). Perkembangan ekspor dan impor perdagangan Indonesia 2025. Jakarta: Kemendag. Diakses dari https://www.kemendag.go.id

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia. (2025). Dampak tarif resiprokal AS terhadap sektor perikanan Indonesia. Jakarta: KNTI. Diakses dari https://knti.or.id

Krugman, P. R., & Obstfeld, M. (2018). International economics: Theory and policy (11th ed.). Pearson Education.

Natalia, D. (2012). Kinerja daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 6(1), 1–20.

Porter, M. E. (2019). Competitive advantage of nations: Creating and sustaining superior performance (2nd ed.). Free Press.

Silitonga, T. (2023). Analisis faktor yang mempengaruhi volume ekspor ikan tuna Indonesia ke Amerika Serikat periode 2010–2019 (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

The White House. (2025, April 2). Annex I: Reciprocal tariff schedule. Washington D.C.: White House. Diakses dari https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/2025/04/Annex-I.pdf

Wandira, L. (2025, Mei). Terjepit tarif AS yang tinggi, pengusaha perikanan menjerit minta dukungan pemerintah. Kontan.co.id. Diakses dari https://industri.kontan.co.id